Sabtu, 28 Juni 2014

Mudahnya memaafkan, bukan berarti aku sudah lupa!




Menjelang bulan Ramadhan pastinya banyak orang meminta maaf, pada saudara, kerabat, teman dan sesiapapun yang kita anggap perlu dimintai maaf. Karena banyaknya BBM yang berisi hal serupa, hati aku tergelitik pada kelakuan orang-orang tertentu yang sampai sekarang masih membekas dan tak dapat aku lupakan, meskipun telah lama aku maafkan.

Gak apa-apa dong, ngomongin kesalahan orang toh aku bukan bergosip hanya menceritakan, yang jadi korban juga kan aku. Mumpung masih boleh, besok kan sudah mulai puasa.

Pertama, pikiranku masih teringat terus dengan masa di mana aku sakit. Oh iya sekedar info biar ceritanya nyambung, dulu aku pernah sakit aneh (tidak  bisa bicara dan berfikir, kalo dipake mikir kepalaku langsung sakit). Pertamanya karena banyaknya konflik di keluargaku, yang tadinya aku pengen semuanya clear malah bikin sesuatu hal terkuak kebenarannya tapi masih saja keluarga banyak yang menyembunyikannya. Akhirnya aku tidak percaya siapapun di keluarga termasuk mamahku (saat itu). Karena tiap kudesak mamah, tetap tidak mau ngaku, malah memutar balikan fakta. Males lah aku dari situ, dan ada niatan ingin kabur. Akhirnya nekad karena saking tidak tau harus bagaimana lagi, aku ikut pesantren. Niatnya nambah ilmu supaya tau langkah apa yang harus aku lakukan sama jalan hidup aku yang pada saat itu memang galau berat. Sampai di pesantren belum seminggu, keluarga  nyusul-nyusulin terus suruh pulang, pas kebetulan juga aku sakit. Saat itu aku ngasih syarat, mau pulang asal pertanyaanku dijawab dengan jujur. Tapi apa, jawabannya masih sama, mereka masih sekongkol dengan skenarionya. Sudahlah akhirnya pasrah dan mau pulang karena tidak kuat juga, badan sudah lemes dan sering  tidak sadarkan diri.

Dari situ langsung dibawa ke dokter, diperiksa dan hasilnya, dokter bilang aku kekurangan oksigen di otak karena kurang cairan (mungkin akibat sering puasa yang kebablasan). Dari situ badanku makin drop, pertamanya aku merasa ada sesuatu yang terjadi sama anggota badanku semua susah untuk digerakin, terutama mulut, tidak bisa dibuka apalagi untuk bicara satu katapun.
Nah karena makin hari makin membuat keluarga khawatir, akhirnya banyak lah keluarga jauh yang datang menjenguk juga ngasih pesan ke keluargaku agar menceritakan apa yang selama ini mereka sembunyikan dari aku. Sakit hati sekali aku pada saat itu, soalnya aku sudah  mendengar kebenarannya tapi tidak bisa memberi komentar apapun karena sakit yang kuderita saat itu. Yang paling tidak bisa aku lupakan, saat ada saudara yang menyerankan aku dirawat di Rumah sakit jiwa. OMG heloo.. Masa aku gila?... Kamu aja kali yang sentimen.. Aku ingat siapa-siapanya yang menjenguk aku, terus apa-apa yang mereka perbincangkan didepanku saat itu, masa iya aku gila? Saking Mamah aku tidak tau harus gimana lagi, membawa aku ke RSJ pun tidak tega. Akhirnya Mama periksain aku ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, tapi tetap meriksain mental aku saat itu. Hasilnya kata dokter aku masih waras dan baik-baik saja, ("tuh dengerin tah maneh"__buat yang ngerasa pengen jeblosin aku ke RSJ) .

Mamah percaya aku tidak gila dan memilih merawatku di rumah dengan pengobatan alternatif, aku diobati dengan metode ruqiyah sampai sembuh.

Iya akhirnya aku sembuh, tapi tidak sampai di situ kepenasaranku tentang "siapa aku" saat itu masih ditimbun lagi.Ya sudahlah, setres juga dipikirin sampai bikin botak (aslinya aku dibotakin karena dibekam di kepala waktu proses pengobatan). aku pasrah sepasrah pasrahnya, karena penasaran yang sepele sebenarnya mah, cuma pengen tau kecurigaan aku itu benar apa tidak, tapi sebenarnya sudah tau juga sih jawabannya. Cuma aku mau tau pengakuannya bahwa benar aku bukan anak mama sama bapa, gitu.

Setelah sembuh, bangkit dari sakit. Gak serta merta membuat hidup aku normal kembali. Ada aja orang yang dibelakang ngatain kalau diriku ini "x orang gila". Hei emang kalian tahu aku sakit apa? terus emang kalian lihat aku teriak-teriak kaya orang gak waras, tidak kan? Dari mana kalian tau aku gila, apa kalian itu psikiater. Psikiater beneran aja bilang bahwa aku tidak terganggu mentalnya. (diulang biar kalian gak lupa bahwa aku waras).

Kalau menceritakan babak yang ini memang bikin emosi sampai sekarang. Bahkan ada yang nyeletuk didepan aku, kalau aku sakit gara-gara kegilaan karena teman lelaki. Duh, makin ngawur aja! Saya masih ingat ya sama kamu! Beda masalah, aku sakit bukan karena pada saat itu aku menjomblo ya, toloong!  Udah mah sering pisan ngehina aku gendut, pas aku sembuh malah ngeledek juga. Ya Allah..

Tapi ya sudahlah, sekarang kan kebalik juga siapa yang kegilaan sama laki-laki. (tapi sumpah ya aku tidak pernah mendoakan yang jelek-jelek, cuma kalau lagi gak sadar mah mungkin pernah). Aku sudah memaafkan kalian, tapi kadang perilaku kalian masih bikin males. Itu yang membuat aku tidak bisa lupa atas apa yang kalian perbuat terhadapku.

Sekarang, semua kebenaran akhirnya sudah terbuka, dengan alasan yang coba aku mengerti. Akhirnya aku memaafkan sikap mama sama bapak. Cuma ya itu, yang heboh malah yang gak tau apa-apa.

Sudah gitu aja, Aku gak dendam cuma gak akan bisa lupa. Kecuali aku amnesia beneran.. tapi sih amit-amit.. hehe..

Wassalam, Selamat berpuasa .. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar