Jumat, 21 Maret 2014

Ya Allah, aku malu...

Cerpen ini tadinya sudah kukirin ke inboxnya Pak Isa, pembina warga KBM.

Tapi kayanya beliau sibuk dan belum merespon, terus belum tentu juga ini kepilih untuk dipublikasikan, makanya gak ada salahnya kuposting di sini juga..

Muhasabah seorang istri

Judul: Ya Allah, aku malu...

Brakkk...! Kubanting pintu kamar mandi dan segera kukunci. Aku menangis sejadinya, tak sanggup rasanya harus meluapkan emosi di
mata suami.

Aku sayang padanya, diapun begitu. Tapi ada kalanya aku merasa egois dan lelah.

“Astagfirullah, sampai kapan ini...” aku masih menangis sambil mengatur nafas, karena tak ingin suaraku terdengar oleh mas Iman,
suamiku.

Aku lelah seharian bekerja di lingkungan yang tak nyaman lagi, rekan kerjaku sudah.tak bersahabat. Segala kesalahan kerja selalu ditimpakan padaku membuatku tak betah kerja.

Sudah lima tahun aku mendamping suamiku, dan sudah 6 tahun aku bekerja di tempat itu.
Susah senang datang silih berganti. Aku rasa tak ada cobaan yang berat di rumah tanggaku selain urusan finansial. Bukan aku
yang matre dan banyak.permintaan. Tapi rasanya keuangan kami yang morat-marit
makin membuatku hampir hilang kesabaran. Suamiku bekerja sambil kuliah, sedang anakku sering sakit sejak lahir, hampir
sebulan sekali harus berobat ke dokter. Uang gaji kami sering terkuras habis bahkan meninggalkan banyak utang. Aku selalu mencoba untuk sabar karena aku yakin ini cobaan.Tadinya masalah ini tidak kuanggap begitu serius, karena aku yang sejak awal menikah, memutuskan ikut bekerja membantu suami. Tapi akhir-akhir ini aku rasa begitu berat. Karena kejenuhanku di tempat kerja
mempengaruhi semangatku untuk
membantu suami dalam urusan keuangan.

‘’Bunda sedang apa? Lama sekali di kamar mandinya..” suara mas Iman terdengar lembut, sepertinya ia tahu hatiku sedang kacau.

Aku masih diam dan tak menjawab, aku segera berwudhu untuk menetralisir emosiku dan membuka pintu. Kulihat suamiku berdiri di depanku.

“Bunda nangis lagi ya? Tanyanya sambil menatap kedua bola mataku dengan teduh, “sini, ada apa sih?” Dia meraih tanganku dan
memeluk pinggangku, memapahku keluar.

Akhirnya kami berada di ruang tengah, kami duduk berhadapan dan dia tak melepaskan genggamannya dari tanganku.
“Ayo cerita, sekarang nangisnya kenapa? Apa yang harus Ayah lakukan?” tanyanya sekarang dengan nada serius.

“Aku ingin resign dari kerjaan, Yah...Gak kuat dengan rekan kerja” jawabku pelan.

“Jadi itu. Gini ya, dari awal Ayah gak pernah menyuruh atau memaksa Bunda untuk bekerja. Sudah sejak lama kita bersepakat
bahwa apapun yang Ayah hasilkan itu untuk keluarga dan bila Nda mau bekerja itu adalah hak dan bukan kewajiban. Sekarang Nda ingin berhenti, ya silahkan..”

‘’Tapi Yah, kuliah Ayah gimana? Masa harus berhenti, kan tinggal dua semester lagi.”

“Kuliah itu rasanya hanya cita-cita Ayah saja, untuk apa jika diteruskan menjadi beban buat Bunda. Ayah lebih mementingkan hati istri yang harus dijaga.”

Saat itu aku tak bisa bicara, Aku merasa menjadi wanita paling egois sedunia. Ya Allah, ampuni hamba..

Aku sungguh malu dengan ucapan mas Iman. Aku ingat saat dia meminta ijin untuk kuliah, aku menyanggupinya. Dia tidak memintaku bekerja untuk membantunya, dia hanya meminta keikhlasanku untuk
menerima keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pilihanku untuk bekerja memang murni niatku sendiri.

Keputusanku untuk resign dari pekerjaan masih menggantung. Semalam, aku merenung sampai ketiduran di ruang tengah.

Pagi-pagi aku sudah ada di kamar,
sepertinya semalam suamiku yang
memindahkannku. Mas iman tak
membangunkan aku saat subuh karena tahu aku sedang berhalangan untuk ikut solat.
Saat aku beranjak dari tempat tidur, Mas iman sudah bersiap pergi ke Kantor. Aku yang baru bangun mengusap-usap mataku,
aku malu suamiku melihat ke arahku.

‘’Yang habis konser, pules banget tidurnya..” candanya padaku. Oh, rupanya dia tidak marah. Alhamdulillah.

“Hehe, iya Yah. Duh, jadi malu..” aku berkata sambil ngusap-ngusap muka.

“Ya sudah, jangan sedih lagi.. jangan takut, Allah itu maha kaya. Walau Bunda enggak kerja Insya Allah ada rejekinya.”

“Amin. Tapi Yah, Nda masuk siang. Hari ini kerja, enggak akan bolos kok..”

“Lho katanya sudah capek..”

“Maklumlah Yah, Ibu-ibu labil. Maafin Nda, ya Yah..” kataku.

Suamiku langsung memeluk dan mencium keningku, “Emh, bau acem..”

“Haha, Ayah sekali lagi maafin Nda ya...” aku balas memeluknya dengan erat.

Ya Allah, Ampuni hambamu ini..

Tak sanggup aku menahan air mata kala berada di pelukan suamiku. Aku merasa sangat
berdosa, dengan menjadi sosok lemah dan mudah menyerah di hadapannya. Padahal kerja keras dan usaha suamiku lebih berat
lagi, tiap pagi dia harus ke kantor untuk absen, setelah itu terjun tugas ke lapangan. Saat jam istirahat dia menjemputku ke
rumah dan mengantarkanku ke tempat kerja sambil melanjutkan tugasnya. Baru setelah selesai jam kerja, ia pergi kuliah. Bahkan
dengan kesibukannya itu tak pernah kudengar keluhannya sama sekali.

Ya Allah, aku malu pada-Mu. Aku juga malu pada suamiku. Ya Allah jadikanlah hamba sosok wanita kuat dan tidak mudah menyerah, juga jadikanlah hamba wanita
yang pantas untuk suami hamba, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar