Rabu, 16 April 2014

Sang primadona

"Aku kan masih muda," fikirnya. Surti bercermin sambil membentuk alisnya bak busur derajat. Dioleskan lipstik cair berwarna nude di bibir sensualnya. Tak lupa juga dia menyapu pipinya dengan blush on. Selesai sudah ritual dandan Surti.

Surti menoleh ke arah jam, sudah pukul 5. Bang Sarmili janji menjemput sekitar 15 menitan lagi. Dia sedikit grogi, maklum ini kencan pertama baginya, setelah hampir setahun menjanda. Hatinya kini sedang berbunga-bunga.

Clenting..! BB nya berbunyi ada tanda pesan BBM yang masuk. Rupanya dari Bang Sarmili.
"Neng sudah siap? Abang sudah di depan gang, sebentar Abang parkirkan mobil." Senyum-senyum mulut surti, terlebih ada kata mobil. Wah, gaya sekali fikirnya, kencan pake mobil. Bayangannya teringat waktu kencan dengan mantan suaminya dulu, boro-boro bawa mobil. Jalan-jalanpun cuma modal sendal paling banter naik angkot.

Hati Surti membuncah penuh kemenangan, "Selamat tinggal masa lalu." Ucapnya dalam hati.

Tok..tok..tok..

Bayangan sang pria tersembunyi di balik pintu, ketika Ibunya hendak membukakan pintu, Surti mendahuluinya. "Biar Surti yang buka, Bu.." senyumnya yang mempesona, ia hadirkan untuk sang pujaan hati.

"Sore Bang, masuk dulu. Ini Ibuku. Bu, ini Bang Sarmili teman yang pernah Surti ceritakan."

"Oh, ya silakan masuk.."

Sarmilipun masuk ke rumahnya bercakap dengan Ibunya. Lantas meminta ijin untuk membawa Surti jalan-jalan dan makan malam.
Saat itu, kedua anak Surti belum pulang sekolah. Surti bicara pada ibunya, "Nitip anak-anak ya, Bu.."

Surti melenggang berjalan beriringan dengan Bang Sarmili. Tubuhnya yang semampai tak menunjukan bahwa ia seorang janda beranak dua. Jalannya yang diatur, berlenggak bagai peragawati. Surti bergairah. Masuk kedalam mobil dengan perasaan bahagia dan harap, "apa ini akan jadi masa depanku?" Hatinya betanya. Semburat senyum keyakinan dan terfikir, " Aku bagai primadona.."  Memantapkan posisinya sebagai kekasih orang berada. Surti sedang mengejar mimpi.

...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar