Minggu, 04 Mei 2014

Air Mata Ibuku



Setiap kali kupandang ke dalam kornea  yang redup itu, aku selalu bersedih. Melihat gurat-gurat halus di wajahnya yang tak lagi muda, bukti bahwa hidup telah membawanya jauh pada lembah yang terjal untuk di jalani. Ia adalah Ibuku. Satu- satunya orang yang kumiliki di dunia ini.

Lapis demi lapis lembaran kitab dibacanya, diselingi banjiran air mata yang mengenangi sajadahnya. Ibu, apa yang kau pikirkan? Di setiap pandanganku kau sembunyikan beban dan tangismu tapi di hadapan sajadah itu kuiintip kau selalu menangis. Ibu apa itu karena masa lalu yang enggan kau ingat lagi? Sungguh mulia dirimu menerima aku, sebagai hadiah dari Allah.

**

“Nur,  jangan kau dengar apa kata orang .., percaya saja pada ibumu.”

“Iya Bu, aku tak mempercayai mereka .. Tapi bukan berarti aku tak ingin tahu. Aku ingin mendengarnya langsung darimu, Ibu..”

Wajahnya seolah menoleh pada dimensi lain. Menerawang dalam bisikan angin yang menyentuh rerumputan. Tersembunyi rasanya padaku. Menghindar perlahan, itulah Ibu. Sunyi, Sunyi dan lenyap dari perbincangan kami.

Sebenarnya apa yang Ibu pikirkan? Ingin sekali aku bertanya  langsung padanya. Tapi aku selalu tak kuasa melihat air muka yang beliau pajang, setiap kumulai pertanyaan menyangkut asal-usulku. Ibu, aku tak berani menyakitimu. Pernah ibuku berkata dengan nada yang tertahan, “Kamu itu anakku, hanya Aku yang kamu miliki di dunia ini. Kamu bukan anak haram …”

Anak haram, itulah label yang seumur hidup harus melekat dalam jati diriku. Walaupun kini diriku telah lulus kuliah. Ada saja yang mengatakan hal itu, terutama saat mereka mempertanyakan siapa ayahku.


**

“Nur, apa setiap orang yang pergi haji akan mendapatkan balasan atas perbuatannya di tanah suci?”
 
“Tidak tahu Bu, hanya Allah yang tahu. Kenapa ibu bertanya begitu?” kulihat wajah ibu mematung, matanya menelisik dimensi lain. Ia seperti membayangkan sesuatu, matanya berkaca. Ia lantas menghapus air bening yang tiba-tiba menuruni dataran wajahnya menuju dagu namun segera tertepis oleh sapuan tangannya.

“Astagfirullah..” suaranya begitu pelan seperti tak ingin melanjutkan perbincangan. Jika sudah begini, aku tak berani bertanya apapun. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang merasakan sesuatu yang sakit dan tak dapat di lupakannya, sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan sesuatu yang bersangkutan denganku.

Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi padanya di masa lalu, melihat ekspresinya yang seperti itu sudah bisa aku tebak itu adalah hal yang sangat berbekas dan mungkin juga ibu trauma dengan sebuah peristiwa. Tapi, apa itu? Aku hanya bisa menerkanya, terkadang aku banyak menebak-nebak tentang hal itu, tebakanku selalu berubah dan belum menemukan jawaban yang pasti. Aku harus sabar, hingga ibu membuka rahasia ini padaku. Karena, pada siapa lagi aku harus bertanya, sedang tak ada satupun orang yang bisa dipercaya di sini. Ya, kampung ini, mereka semua mengucilkan kami.

Ibu aku akan menunggu saat hatimu kau buka, agar bisa membagi bebanmu padaku. Hanya itu yang aku harapkan agar aku dapat melakukan suatu hal yang baik padanya. Membalas segala kebaikannya selama ini. Ibu yang membesarkanku sendirian.

 ***

Sebenarnya kami bukan orang miskin, sebelum aku lahir ibuku adalah seorang yang berada, istri dari seorang kepala desa. Ibu dan Bapak bercerai sebelum ku lahir. Ini yang menjadi sebuah tanda Tanya bagiku, karena kejadian ini orang beranggapan bahwa aku adalah anak haram yang mengakibatkan Ibu diceraikan bapak. Tapi aku tahu, rasanya tak mungkin jika ibu melakukan hubungan gelap atau hal yang tidak pantas. Ibu menyembunyikan peristiwa ini dariku. Ibu hanya bilang bahwa aku ini hadiah dari Allah, karena telah menjauhkannya dari cinta Bapak. Dan jika aku bertanya siapa bapakku, Ibu akan meneteskan air mata tanpa jawaban. Semula aku tak mengerti tapi kini aku pikir akan lebih berarti jika ibu menceritakannya atas kehendaknya sendiri, maka itu aku harus bersabar. Tidak boleh berpikir negatif.

Tak ada seorang pun teman yang kumiliki disini. Mungkin karena sejak kecil Ibu menempatkanku di sekolah asrama yang jauh dari kampung ini. Ibuku juga tak punya saudara, karena sebetulnya Ibu hanya pendatang. Entah kenapa, Ibu begitu mencintai tempat ini. Padahal mantan suaminya masih tinggal di sini bersama keluarga barunya, belum lagi masyarakat yang sering menggunjingnya. Ibu begitu kuat untuk bertahan di sini.

Tahun ini rencananya Ibu akan berangkat naik haji, ini merupakan cita-citanya sejak lama. Tapi akhir-akhir ini Ia jadi begitu sering bersedih dan bertanya hal-hal yang aneh, hal yang ia takutkan dan hal yang tak aku mengerti. Mungkin, ia teringat tentang mantan suaminya itu, yang terkadang aku panggil ayah. Pernah aku dengar berita bahwa Ibu bercerai ketika suaminya baru pulang berhaji. Ibu masih mengandungku saat itu. Aku bayangjkan perasaannya pasti sangat sakit, apalagi seharusnya suaminya senang menerima kehamilan ibu karena aku adalah anak yang diharapkan selama bertahun-tahun, tapi entah mengapa Ibu malah dicampakkan.

***

Setelah lima tahun kuliah di kota lain kampung ini bertambah asing bagiku. Bosan juga aku berdiam diri di rumah dan memperhatikan Ibu yang selalu terjatuh dalam lamunannya. Aku jadi sendirian dan mulai merindukan suasana kota yang ramai. Hari ini aku putuskan untuk menghilangkan kejenuhanku dengan pergi ke kampung sebelah, mengendara motor. Mudah-mudahan saja di perjalanan ada hal yang menyenangkan dan berbeda dengan di sini.

Sebelum berangkat aku pamit pada Ibu, Segera menyalakan mesin motor dan menghembuskan angin di knalpot motorku, Breeemm ... Akhirnya, untuk sementara aku menjauh dari kampung ini. Menelusuri jalan dengan bergegas dan tak sabar hingga tiba di perbatasan. Aku lihat rumah besar dimana ibu selalu berhenti sejenak di sini, jika lewat. Mematung dan cepat-cepat meneruskan langkahnya. Bila itu terjadi, aku tak berani bertanya karena wajah ibu yang terlihat sedang menyembunyikan tangisannya tapi aku tak berhenti berpikir keras, dan aku ambil kesimpulan bahwa itu rumahnya dulu ketika masih bersama suaminya. Tiba-tiba aku sedih ingat kejadian itu. Ah, aku terlalu konsen memikirkan ibu, hingga aahh ..., Sreett Gubraak ... "Aduuh ..,"

Besambung ..., keburu ada customer dateng ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar