Selasa, 06 Mei 2014

Oh, ternyata...

Pernah nonton sinetron Tukang Bubur Naik haji 'kan? Tahu dong siapa itu Muhidin? Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya berhadapan dengan karakter Muhidin di kehidupan saya. Oh, memang manusia gudang kesalahan, begitupun saya sebagai manusia biasa, tak dapat mengendalikan emosi saya setiap berhadapan dengan orang yang berkarakter "nyeleneh" itu. Saya sebut demikian karena orang tersebut tahu mengenai ilmu agama dan dikatakan mumpuni secara dia seorang haji (entah berapa kali..) tetapi dalam pelaksanaannya tak satupun ilmu yang ia pakai ketika dihadapkan dalam sautu masalah, yang dikedepankan cuma emosi. Ilmunya hanya teori yang ia ingat dalam pembahasan saja tidak untuk mengendalikan prilakunya dalam bermasyarakat.

Ceritanya dua hari yang lalu saya mendapat keluhan dari Ibu yang membesarkan saya, katanya beliau sering mendapat sms yang berbunyi kurang enak di hati dari salah satu mantan tetangga kami dulu yang sebetulnya masih kerabat jauh. Entah bagaimana mulanya beliau mengorek-ngorek permasalahan yang sedang ibu saya hadapi dengan seorang klien yang masih tetangga dengan sosok Muhidin tersebut. Memang ibu saya sedang dihadapkan pada sebuah perkara, sebetulnya tidak rumit hanya salah paham saja. Dengan niat sebagai pahlawan si Muhidin perempuan itu datang tanpa tedeng aling-aling mengatas namakan klien ibu saya, meminta pertanggung jawaban atas kasus yang sebetulya tidak ia pahami. Intinya ia memfitnah ibu saya seolah ibu saya telah menipu dan merugikan klien ibu saya. Hal ini justru jadi rumit, yang tadinya permasalahannya cuma tinggal menunggu waktu saja jadi makin tak dimengerti. Ibu saya dibikin pusing oleh kata-kata ancaman darinya. Dengan bunyi-bunyi sms yang seolah memperingatkan bahwa kita sebagai manusia harus bertindak jujur dan menjaga kepercayaan. hah .., tentu saja harus, tapi tidak dalam situasi ini, karena masalahnya bukan ibu saya yang berbohong. Ini cuma salah paham. Untungnya ibu saya bersikap dingin dan tak menggubris ancaman dari seorang Hajah tersebut. Alhasil ketika waktunya tepat permasalahanpun selesai dengan sendirinya. Apa-apa yang diharapkan oleh klien Ibu saya terpenuhi sesuai dengan perjanjian. Akhirnya, ibu saya juga menyampaikan unek-uneknya pada kliennya bahwa selama proses penyelesaian (sebut saja perkara) beliau mendapat ancaman dari Hj Muhidin tersebut. Dan apa yang dikatakan kliennya? Ia benar-benar mengucapkan maaf dan terimakasih karena ibu saya bersabar dalam menolongnya. ia tak pernah sama sekali menyuruh orang itu untuk ikut campur dalam urusan Ibu saya dengan dia. Ah, terlalu banyak orang dengan karakter itu di lingkungan saya. Kasihan ibu saya menjadi seorang Emak dalam kehidupan nyata.. Muhidin yang sotoy, sok benar tapi tak punya kaca di rumahnya.

Ini Hj. Muhidin versi Ibu saya .. ada lagi Muhidin lain di kehidupan saya, nanti saya ceritakan di postingan yang akan datang ..

Oh, ternyata hidup itu seperti sinetron..

Minggu, 04 Mei 2014

Air Mata Ibuku



Setiap kali kupandang ke dalam kornea  yang redup itu, aku selalu bersedih. Melihat gurat-gurat halus di wajahnya yang tak lagi muda, bukti bahwa hidup telah membawanya jauh pada lembah yang terjal untuk di jalani. Ia adalah Ibuku. Satu- satunya orang yang kumiliki di dunia ini.

Lapis demi lapis lembaran kitab dibacanya, diselingi banjiran air mata yang mengenangi sajadahnya. Ibu, apa yang kau pikirkan? Di setiap pandanganku kau sembunyikan beban dan tangismu tapi di hadapan sajadah itu kuiintip kau selalu menangis. Ibu apa itu karena masa lalu yang enggan kau ingat lagi? Sungguh mulia dirimu menerima aku, sebagai hadiah dari Allah.

**

“Nur,  jangan kau dengar apa kata orang .., percaya saja pada ibumu.”

“Iya Bu, aku tak mempercayai mereka .. Tapi bukan berarti aku tak ingin tahu. Aku ingin mendengarnya langsung darimu, Ibu..”

Wajahnya seolah menoleh pada dimensi lain. Menerawang dalam bisikan angin yang menyentuh rerumputan. Tersembunyi rasanya padaku. Menghindar perlahan, itulah Ibu. Sunyi, Sunyi dan lenyap dari perbincangan kami.

Sebenarnya apa yang Ibu pikirkan? Ingin sekali aku bertanya  langsung padanya. Tapi aku selalu tak kuasa melihat air muka yang beliau pajang, setiap kumulai pertanyaan menyangkut asal-usulku. Ibu, aku tak berani menyakitimu. Pernah ibuku berkata dengan nada yang tertahan, “Kamu itu anakku, hanya Aku yang kamu miliki di dunia ini. Kamu bukan anak haram …”

Anak haram, itulah label yang seumur hidup harus melekat dalam jati diriku. Walaupun kini diriku telah lulus kuliah. Ada saja yang mengatakan hal itu, terutama saat mereka mempertanyakan siapa ayahku.


**

“Nur, apa setiap orang yang pergi haji akan mendapatkan balasan atas perbuatannya di tanah suci?”
 
“Tidak tahu Bu, hanya Allah yang tahu. Kenapa ibu bertanya begitu?” kulihat wajah ibu mematung, matanya menelisik dimensi lain. Ia seperti membayangkan sesuatu, matanya berkaca. Ia lantas menghapus air bening yang tiba-tiba menuruni dataran wajahnya menuju dagu namun segera tertepis oleh sapuan tangannya.

“Astagfirullah..” suaranya begitu pelan seperti tak ingin melanjutkan perbincangan. Jika sudah begini, aku tak berani bertanya apapun. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang merasakan sesuatu yang sakit dan tak dapat di lupakannya, sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan sesuatu yang bersangkutan denganku.

Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi padanya di masa lalu, melihat ekspresinya yang seperti itu sudah bisa aku tebak itu adalah hal yang sangat berbekas dan mungkin juga ibu trauma dengan sebuah peristiwa. Tapi, apa itu? Aku hanya bisa menerkanya, terkadang aku banyak menebak-nebak tentang hal itu, tebakanku selalu berubah dan belum menemukan jawaban yang pasti. Aku harus sabar, hingga ibu membuka rahasia ini padaku. Karena, pada siapa lagi aku harus bertanya, sedang tak ada satupun orang yang bisa dipercaya di sini. Ya, kampung ini, mereka semua mengucilkan kami.

Ibu aku akan menunggu saat hatimu kau buka, agar bisa membagi bebanmu padaku. Hanya itu yang aku harapkan agar aku dapat melakukan suatu hal yang baik padanya. Membalas segala kebaikannya selama ini. Ibu yang membesarkanku sendirian.

 ***

Sebenarnya kami bukan orang miskin, sebelum aku lahir ibuku adalah seorang yang berada, istri dari seorang kepala desa. Ibu dan Bapak bercerai sebelum ku lahir. Ini yang menjadi sebuah tanda Tanya bagiku, karena kejadian ini orang beranggapan bahwa aku adalah anak haram yang mengakibatkan Ibu diceraikan bapak. Tapi aku tahu, rasanya tak mungkin jika ibu melakukan hubungan gelap atau hal yang tidak pantas. Ibu menyembunyikan peristiwa ini dariku. Ibu hanya bilang bahwa aku ini hadiah dari Allah, karena telah menjauhkannya dari cinta Bapak. Dan jika aku bertanya siapa bapakku, Ibu akan meneteskan air mata tanpa jawaban. Semula aku tak mengerti tapi kini aku pikir akan lebih berarti jika ibu menceritakannya atas kehendaknya sendiri, maka itu aku harus bersabar. Tidak boleh berpikir negatif.

Tak ada seorang pun teman yang kumiliki disini. Mungkin karena sejak kecil Ibu menempatkanku di sekolah asrama yang jauh dari kampung ini. Ibuku juga tak punya saudara, karena sebetulnya Ibu hanya pendatang. Entah kenapa, Ibu begitu mencintai tempat ini. Padahal mantan suaminya masih tinggal di sini bersama keluarga barunya, belum lagi masyarakat yang sering menggunjingnya. Ibu begitu kuat untuk bertahan di sini.

Tahun ini rencananya Ibu akan berangkat naik haji, ini merupakan cita-citanya sejak lama. Tapi akhir-akhir ini Ia jadi begitu sering bersedih dan bertanya hal-hal yang aneh, hal yang ia takutkan dan hal yang tak aku mengerti. Mungkin, ia teringat tentang mantan suaminya itu, yang terkadang aku panggil ayah. Pernah aku dengar berita bahwa Ibu bercerai ketika suaminya baru pulang berhaji. Ibu masih mengandungku saat itu. Aku bayangjkan perasaannya pasti sangat sakit, apalagi seharusnya suaminya senang menerima kehamilan ibu karena aku adalah anak yang diharapkan selama bertahun-tahun, tapi entah mengapa Ibu malah dicampakkan.

***

Setelah lima tahun kuliah di kota lain kampung ini bertambah asing bagiku. Bosan juga aku berdiam diri di rumah dan memperhatikan Ibu yang selalu terjatuh dalam lamunannya. Aku jadi sendirian dan mulai merindukan suasana kota yang ramai. Hari ini aku putuskan untuk menghilangkan kejenuhanku dengan pergi ke kampung sebelah, mengendara motor. Mudah-mudahan saja di perjalanan ada hal yang menyenangkan dan berbeda dengan di sini.

Sebelum berangkat aku pamit pada Ibu, Segera menyalakan mesin motor dan menghembuskan angin di knalpot motorku, Breeemm ... Akhirnya, untuk sementara aku menjauh dari kampung ini. Menelusuri jalan dengan bergegas dan tak sabar hingga tiba di perbatasan. Aku lihat rumah besar dimana ibu selalu berhenti sejenak di sini, jika lewat. Mematung dan cepat-cepat meneruskan langkahnya. Bila itu terjadi, aku tak berani bertanya karena wajah ibu yang terlihat sedang menyembunyikan tangisannya tapi aku tak berhenti berpikir keras, dan aku ambil kesimpulan bahwa itu rumahnya dulu ketika masih bersama suaminya. Tiba-tiba aku sedih ingat kejadian itu. Ah, aku terlalu konsen memikirkan ibu, hingga aahh ..., Sreett Gubraak ... "Aduuh ..,"

Besambung ..., keburu ada customer dateng ..

Senin, 28 April 2014

Cinta Ibu, Cintaku kepadanya.



 "Bu, aku berhenti kuliah. Mumpung masih awal .., lebih baik aku fokus dulu pada penyakit Ibu."

"Kenapa kamu lakukan itu, Zam? Maaf, Ibu merepotkan kamu. Cita-citamu jadi terhenti karena Ibu .." nada yang lemah keluar dari mulut wanita tua itu. Sementara anak laki-lakinya menggenggam tangannya dengan  erat. Dalam Hatinya, tak ingin menyesali bila sang ibu pergi tanpa ada usaha pengobatan sama sekali.

***

Breeng... Breeng... Breeng, Ngeeenggg...TIDIDDD!

Terdengar suara ribut di luar, Azam kecil belingsatan berlari ke arah jendela. Menatap teman-teman seusianya sedang bermain di halaman rumahnya yang luas. Tentu saja halaman rumah Azam menjadi begitu luas, rumahnya bersebelahan dengan Masjid, belum lagi ada lapangan luas tepat menambahi halaman rumahnya. Disitu lah teman-temannya biasa bermain, tapi kali ini dia hanya menatap mereka dari jendela. Azam adalah anak yang tahu waktu, begitu cara ibunya mendidik.

"Bu, lepas ashar aku boleh main 'kan?"

" Tentu sayang .., sekarang kamu kerjakan pe'ermu dulu."

"Kenapa sih, aku tak boleh bermain? lihat Bu, betapa serunya mereka bermain saat ini ..., jika aku bermainnya nanti, mungkin sudah tidak seru lagi ..." mulutnya mengkerut sambil menyilangkan tangannya di atas jendela, kemudian ia menoleh ke arah ibunya.

"Bukan tak boleh sayang, Ibu hanya menundanya saja, kamu boleh bermain nanti ya ... Apa tidak capek nantinya jika baru pulang sekolah langsung bermain? Bisa-bisa kamu lupa dengan pe'ermu."

"Oh iya, Ibu benar."

Tidak ada yang lebih dekat dari hatinya selain Ibunya. Azam sangat mencintainya sepenuh hati.


***

"Mas Azam, kenapa tidak pernah menjemput lagi ... Mas sudah bosan ya, denganku?" Perempuan yang cantik itu bicara pada Azam, ketika Azam keluar dari pintu kantornya tiba-tiba saja wanita itu sudah  ada di sana.

"Bukan begitu, Mas sedang ada masalah. Di kerjaan sibuk, kuliah juga sedang ada UTS. Belum lagi, harus bolak-balik Bandung-Purwokerto."

"Tapi, bisa ngabarin lewat SMS 'kan .., jadi aku khawatir. Kirain, Mas kenapa-napa lagi ..."

"Maafkan Mas, Mey ... HP Mas sudah terlanjur dijual sebelum memberi kabar padamu."

"Dijual? Kenapa? Mas sedang kesulitan uang,  Mas baik-baik saja kan?

"Mey, kamu tidak perlu khawatir. Mas menjualnya untuk biaya pengobatan Ibu di kampung. Nanti kalau ada rejekinya pasti kebeli lagi."

Lantas Azam mengajak Meyda ke suatu tempat. Tampaknya, ada hal yang ingin dibicarakan olehnya-hal yang lebih serius.

"Mey, kamu serius mau sama Mas? kamu tahu 'kan siapa Mas ini? Ya, Mas anak orang yang tak punya, orang kampung, dan cuma pegawai rendahan ..."

"Mas ini bicara apa sih? Tentu aku serius, Bukannya dari awal Mas yang berniat untuk serius 'kan? Masalah hati itu tak boleh dimain-main. Meskipun umurku masih muda, tidak ingin juga aku berganti-ganti pasangan. Dari awal pun aku hanya ingin punya hubungan yang serius untuk menikah ..."

"Maka dari itu, maafkan Mas ..., ya Mey?"

"Untuk apa 'sih Mas?"

"Mas tidak bisa mewujudkannya dalam waktu dekat ini, Ibu sakit dan perlu biaya, kuliahku pun masih berjalan walau tersendat. Maaf Mey, Mas bingung harus bagaimana? Mas minta kamu mau bersabar ..., tentu kalau kita berjodoh ..," Azam berhenti untuk menghela nafas, " Mas sangat berharap kita bisa berjodoh nantinya, tapi Mas tak bisa memastikan. "

"Aku tidak mengajakmu menikah sekarang 'kan Mas .., Aku baik-baik saja. Mas ini kenapa? Kalau hubungan kita mengganggu konsentrasi Mas saat ini, Aku rela menjauh untuk sementara ...,  itukan yang Mas mau bilang?"

"Mas malu, Mey .., Kamu selalu bisa membaca hati Mas, kemana fikiran ini menuju. Tak ada yang sebaik kamu, Mey. Ibuku dan Kamu. Mas tak akan mengcewakan Kamu.Terimakasih untuk pengertianmu selama ini."

"Tak apa, sudah seharusnya kita saling mengerti .., oh ya .. Sebaiknya, Mas pakai saja HPku yang ini, sudah jarang dipakai juga 'kan aku masih bisa pakai HP yang satunya lagi. Setidaknya Mas masih bisa memonitor keadaan Ibu di kampung. Terima ya Mas? Jangan sungkan!"

Tidak salah Azam telah menambatkan hatinya pada wanita itu. Cantik, baik dan 
sangat pengertian. Hati Azam sebenarnya tak tega bila harus menjauhinya untuk sementara. Tapi Azam tak ingin menyakiti hati wanita itu terlalu jauh, Azam sangat takut keadaannya membuat Meyda kecewa karena lama menunggu. Dulu Ia sepat berjanji untuk menikahi Meyda, walau kuliahnya belum beres.



****

'Zam, Ibu sakit lagi. Tadi pagi baru dibawa ke RS. Kalau kamu ada waktu, lebih baik kamu cepat pulang. Ibu bicara terus tentang kamu, Zam.' SMS dari Kakaknya di kampung. Gelisah, seketika menyeruak di hatinya. Ibu, apa Ibunya baik-baik saja?

HPnya menyala lagi, SMS dari Kakaknya yang kedua kali. 'Zam, Kamu itu bungsu yang paling dikhawatirkan Ibu. Kamu pulang saja sekarang, ada hal yang perlu kita bicarakan.'


Begitu selesai membaca SMS kali ini, Azam tak berfikir panjang. Dengan sigap Ia bersiap pulang ke Purwokerto.

Azam yang bekerja sebagai OB di kantornya itu langsung menghubungi pihak HRD, bahwa Ia harus segera pulang kampung. Tugasnya yang menjaga kantor siang dan malam kini dialihkan pada staf lain yang setingkat dengan jabatannya.

Azam pulang dengan kereta malam, untungnya sekarang bukan waktu liburan dan banyak kursi kosong di kereta. Rupanya selalu ada jalan kemudahan baginya untuk bisa mengunjungi ibunya.

Dalam perjalannannya, Azam melafadzkan segala do"a terbaik bagi sang Ibu. Cintanya, segalanya Ia kenang dan terlintas di pikirannya. Cinta ibunya yang membesarkan dia menjadi sesosok laki-laki yang selalu bersungguh-sungguh dalam mengejar cita- cita. Kebesaran hati Ibunya juga yang menggantikan kesedihan Azam yang ditinggal Ayahnya sejak Usia 10 tahun, hingga ia tak pernah kehilangan sosok sang Ayah. Ibu yang kuat dan tangguh. Matanya berkaca hampir menjatuhkan tetesan sebening kristal.

"Izinkan aku bertemu Ibu, Ya Allah..." Ia teringat pesan SMS dari Kakaknya. Azam gundah memikirkan apa yang sedang ataupun yang akan terjadi.

****

"Ibu harus dioperasi jantung, Zam .., kakak-kakakmu ini bingung. Kita sudah habis-habisan mengobati Ibu. Kali ini dana kami terbatas."  Azam yang baru saja tiba di Rumah sakit menjadi semakin bingung.

"Berapa biayanya ... ?" Azam berbicara dengan tenang, setidaknya iapun harus menenangkan hati Kakak-kakaknya yang sedang bingung dan khawatir tentang kondisi Ibu.

" Sepuluh juta ..," jawab Kakak perempuannya, "Kemarin kita pegang uang lima belas juta, tapi tadi pagi saja sudah keluar tujuh jutaan. Kita bingung mau cari kemana lagi, Zam. Kamu punya simpanan tidak?"

"Ada, aku punya lima juta. Jika masih kurang aku akan pinjam ke kantor. Yang penting Ibu bisa sembuh."

'Tak apalah, pakai saja uang untuk bayar kuliah.' batin Azam. Sungguh tak tega melihat ibunya terbaring lemas di ruangan ICCU. Ia akan rela mengorbankan apapun demi Ibunya. 'Kuliah, nanti saja yang penting Ibu ..' kata hatinya sangat mantap.


Akhirnya, Ibunya merasakan meja Operasi.


***

Sudah 5 jam berlalu, Ibu keluar juga dari ruangan operasi itu. Khawatir berkecamuk di hati masing-masing anaknya, terlebih Azam. Si bungsu kesayangan Ibu.

Dokter belum mengizinkan ada orang lain berada di dekat pasiennya. Tunggu sampai Ibu siuman.


Alhamdulillah, setelah menunggu lagi sekitar 3 jam Ibunya siuman dan dalam beberapa hari Ibunya diperbolehkan pulang.



***


Setengah tahun paska operasi sang ibu, Azam tak pernah sekalipun melewatkan jadwal pulang kampungnya yang sebualan sekali. Ia rajin menengoki keadaan ibunya. Ibu tak tahu bahwa Azam sudah tak lagi kuliah. Azam mengurungkan cita-citanya jadi sarjana, Ia tak sanggup mengejar ketinggalan pembayaran biaya kuliahnya. Ia berhenti. Tapi Azam tak pernah menyesalinya sama sekali.Iia akan lebih menyesal jika operasi ibunya tidak dilakukan. Sebagai anak, separuh hatinya adalah milik ibu. Jika separuh hatinya pergi disia-siakannya tentu apa artinya hidup, jika itu sampai terjadi.

Akhirnya pada suatu kesempatan Azam memberi tahu ibunya bahwa ia sudah tidak kuliah lagi.

"Ya, aku berhenti, Bu. Tapi bukan berhenti bermimpi, aku akan benar-benar berhenti bermimpi jika waktu itu aku melepas Ibu begitu saja, Ibu jangan khawatir .., anakmu ini sudah besar. Tidak kuliah aku masih bisa mewujudkan hal lain 'kan Bu, menikah misalnya ..." Kali ini ia tersenyum menatap kedua bola mata Ibunya yang teduh. Berharap kata-katanya tidak dianggap candaan.

"Amin, semoga anak ibu jodohnya sudah dekat .." Hati Azam menjadi besar. Angannya menuju wajah Meyda yang setia menantinya.

Itulah jalan hidup, Azam hanya bisa mrencanakan dan berusaha memperoleh mimpinya. Mengejar gelar sarjana sambil bekerja. Kegagalan tidak membuatnya putus asa. Dia hanya berusaha melakukan yang terbaik pada nasib yang ada di hadapannya.

'Menikah dulu terus kuliah..' bisik hatinya, 'bukan hal tidak mungkin.., aku pasti bisa selama do'a Ibu menyertaiku.






www.shilpaderamstory.blogspot.com
Shilpa23yahya@gmail.com
@wiwigemini














Minggu, 27 April 2014

Dicap bohong itu sakit, Marisol!

"Kamu bicara apa?" Ibu guru menanyaiku.

"Itu Bu, rok yang Eli pakai itu punyaku. Tadi dia langsung pake baju olah raga dari rumah Bu .., itu punyaku." Aku bersikeras Eli telah mengambil dan memakai rok seragam sekolahku. Hari ini ada penjaskes biasanya akupun langsung memakai pakaian olah raga, tapi karena pulang sekolah nanti aku mau ke tempat ibu, jadinya aku rangkap celana olahragaku dengan rok merah itu.

Tapi selepas olah raga, kemana perginya rokku? Loh, ko temanku  jadi pakai rok, tadi kan dia tidak pakai. 

Saat kutanya dia langsung berkilah. Padahal sudah jelas itu rok yang kupakai tadi sebelum jam olahraga dimulai. Sangat yakin itu rokku karena aku menandainya dengan tip-ex dibagian bawahnya.

Kulaporkan Bu Guru, apa yang terjadi? Bi Guru malah bilang, aku tak boleh berbohong.

Sampai sekarang masih aku ingat kejadian itu. Guru itu, temanku yang itu juga tak pernah kulupakan. Aku hanya tertawa, sebegitu tak berartinya aku di masa lalu. Bahkan untuk percaya pun, Guruku sendiri tak mengusahakannya untukku.

Tak sekali itu saja, temanku yang satu itu pandai sekali berbohong. Dan sering kali aku yang jadi korban. Tapi setelah kelas 6, semua teman jadi tahu sifatnya. Hanya Guru itu yang belum tahu kebenarannya, ya bikin aku penasaran seumur hidup.
Hal semacam ini juga yang membuat aku malas sekolah. Kalau sekarang istilahnya "dibully" mungkin ya, dulu aku sering diperlakukan tidak adil. Makanya, aku tumbuh jadi orang yang emosional.

Aku tidak menyalahkan siapapun atas diriku sekarang. Tapi aku hanya mau bilang, yang namanya luka benar-benar membekas dan susah untuk hilang, apalagi dalam benak anak kecil, sampai dewasapun ia akan membawanya.

Dicap bohong itu sakit, Marisol!

Sabtu, 26 April 2014

Jangan jadi orang yang gak tahu malu!

Seringkali, kebanyakan dari kita mengurungkan niat untuk berbuat suatu perkara dengan alasan malu. Saya juga sering mengatakan alasan malu, padahal ada alasan lain yang enggan diutarakan jadinya saya tolak dengan alasan yang simpel yaitu "malu".

 Tahukah kamu bahwa rasa malu itu wajib dimiliki oleh semua orang, karena hal itulah yang menjadikan diri kita dinamakan makhluk yang bermoral, adanya rasa malu menunjukan bahwa kita mengenal etika. Kita hidup tidak sendiri alias kita ini manusia yang tak dapat hidup terlepas dari lingkungan sosial. Tapi tahukah bahwa rasa malu itu dapat membawa pada hal yang positif dan negatif tergantung kita menseting rasa malu yang ada di mindset kita.

Untuk tahu apakah rasa malu yang kita miliki itu berdampak baik atau buruk, kita harus menelaah lebih dalam dan memilah mana rasa malu yang harus dienyahkan dan mana rasa malu yang harus di kembangkan.

Kita harus tahu dulu kapan dan mengapa rasa itu muncul? dan kita juga harus membedakan mana rasa malu dan mana rasa gengsi yang tidak perlu. Ingat bahwa malu bisa menjadi kunci sukses Contohnya ketika kita merasa malu menjadi manusia yang selalu tergantung pada orang lain, kita berusaha berjuang sekuat tenaga menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan menekan rasa gengsi (malu yang negatif). Sering kali banyak orang yang menilai pekerjaan baik buruknya dengan gengsi, misalkan kita menilai bekerja sebagai tukang sampah adalah hal yang memalukan. atau bekerja menjadi pengasuh itu lebih melalukan  dari pada menjadi perawat . Sesungguhnya pekerjaan yang baik, yang tidak mendatangkan malu itu bukan diciptakan dari seberapa besar penghasilannya, selama itu tidak merugikan orang lain dan tidak berbuah dosa tentu kita tidak harus merasa malu.

Zaman sekarang malu yang berkembang adalah malu yang negatif. Saya pun kadang merasa begitu..(harus ke bengkel hati ini mah...) pernah ga ngerasa malu karena pake hape jadul, baju lusuh, muka berminyak dll? Tapi apa sebenarnya itu perlu? ga usahlah melebay-lebaykan malu yang gak penting. Malu yang penting itu malu yang dapat merubah kita pada hal-hal yang baik. Misalkan kita malu menjadi pegawai yang dapet gaji buta, untuk itu kita harus berubah lebih produktif dalam pekerjaan yang insyaallah nantinya, rejeki kita yang diperoleh dari pekerjaan itu lebih barokah. Malu yang penting itu salah satunya adalah jadi orang cantik tapi dermawan sekali, lihat-lihatin bodynya secara gratisan, harusnya malu itu ada dalam situasi seperti ini. Ya malu yang positif wajib dikembangkan, tentunya bagi kita yang ingin selalu memperbaiki diri dan takut kehilangan arah dalam hidup. Begitupun malu yang negatif jangan dipelihara karena akan menggusur kita ke arah kemelaratan. Karena malu yang tidak pada tempatnya bisa berubah menjadi gengsi yang berlebihan dan menjuruskan kita pada gaya hidup yang hedonisme.

Tahukan kamu malu yang positif? So, jangan jadi orang yang gak tahu malu...

 Ayo, semangat menuju kebaikan..!

Postingan nyangkut, bagaimana?

Saya masih terbilang baru dalam mengenal blog. Untuk itu saya sangat merasa perlu untuk belajar. Meskipun saya rasa kemampuan saya teramat tertinggal bila dibandingkan dengan para pendahulu saya di dunia blog ini. Banyak sekali langkah-langkah atau hal yang belum saya ketahui caranya untuk menyusun satu blog yang bagus dan menarik. Saya sering membaca artikel-artikel dari para pendahulu saya, tapi begitu banyak hal yang belum saya fahami. karena mungkin level topik yang dibicarakan belum setingkat dengan saya yang masih sangat meraba di dunia blog ini. Ya, saya belajar sambil meraba, karena kenyataannya begitu. Meskipun saya bisa melihat dengan kacamata minus 1,75 tapi saya belum bisa melakukan hal-hal yang telah dipandukan oleh para pendahulu saya yang sudah sukses dengan blognya. Minimal tampilan yang bagus saja, saya terlalu katro,hehe.. sudah diajarkan langsung mengaplikasikannya pada blog saya yang jadi kuburan dulu. tapi mau diaplikasikan ke blog ini, saya malah lupa caranya.

Sebelumnya saya lebih sering posting tulisan amburadul saya lewat hp android. Lebih praktis sih.., tapi sangat terbatas. Terakhir, saya sempat posting tulisan beserta gambar tapi malah lama sekali prosesnya terus-terusan dan tidak berhenti akhirnya saya restrart hp saya.Si postingan masih dalam poses untuk dipublish, tapi masih bisa dibuka filenya akhirnya saya putuskan untuk menyimpannya di dalam draf. Tadinya mau diperkecil ukuran gambarnya, kalau-kalau itu yang menyebabkan prosesnya begitu lama. Tapi apa yang terjadi? saya lihat postingan itu tidak ada di dalam draf saya. tidak juga di dalam file yang sudah dipublish. Saya hanya bisa mendapatkannya dalam daftar keseluruhan file., tapi file itu tidak dapat dibuka seperti terkunci. dan keterangannya tertulis "saved". Itu yang terlihat di tampilan hp saya. Ketika saya membukanya dengan PC, file itu tidak ada di manapun baik di daftar postingan ataupun di dalam draf. Aneh bagaimana membuat file itu bisa di posting lagi ya, ide untuk menulis hal yang sama seperti file itu sudah hilang dan lenyap.. hadeuh... bukan sesuatu yang penting sih buat orang lain, karena isinya cuma curhatan saya saja.. tapi rasanya sayang jika keberadaannya menjadi misteri.. Bagaimana ya?

Senin, 21 April 2014

Siapa bayi itu?

Bertahun silam melegendalah sebuah kisah di kehidupanku.

Seorang ibu muda, cantik dan tengah hamil tua memiliki suami yang sakit-sakitan karena usia yang menua.

Saat sang suami diambang usia yang kian mengkerut dan kepayahan menghadapi setiap nafas yang berat. Sang suami memberinya mandat, bagaikan seorang kepala negara memberikan perintah pada sang menteri. Dengan kondisinya yang tak dapat lagi berbicara akibat tergerus penyakit, dituliskannyalah sebuah surat. Bisa dibilang itu sebuah wasiat yang ia tujukan untuk anaknya (dari istri sebelumnya) yang telah dewasa dan yang paling ia percayai.

Apa isi surat itu?

Surat itu merupakan sebuah pesan dari sang ayah untuk anaknya, agar mau merawat anak yang kelak akan dilahirkan oleh istrinya.

Apa yang terjadi?

Ketika ibu muda itu melahirkan, begitu singkat sekali waktu yang dirasakan bagi bayi itu untuk ada di pelukan ibunya.

Saat bayi baru berusia 4 bulan sang bayi diboyong menjauhi ibu kandungnya dan diasuh dengan kasih sayang oleh sang kakak.

Ketika Ajal menjemput pria renta tak berdaya. Apa yang terjadi pada bayi itu?

Si bayi telah berusia 5 tahun, dan terlalu dini untuk menghadapi kenyataannya. Disembunyikanlah status dirinya.

Apa yang ia tahu saat pemakaman ayahnya?

Yang ia tahu itu pemakaman kakeknya

Sedih, sedih bagi orang yang tahu kebenaranya.

Lebih sedih dan sakit saat bayi itu tau kebenarannya. Kecewa, terlalu banyak kebohongan di sekitarnya.

Terlebih saat semua terbongkar tak ada pengakuan yang dapat menghapus kecewanya. Masih saja ia merasa terbuang di tengah hidupnya yang seharusnya bersinar karena kebenaran telah terungkap.

Ibu, ibu, dia hanya ingin ibunya menyapu setiap bulir air mata kecewanya. Meredam amarah yang sempat ia rasakan. Tak bisakah itu terjadi?

Tuhan, siapa bayi itu?

Bayi itu kini telah memiliki bayi yang sudah besar. Kini diapun merasakan suka duka menjadi ibu. Rasa sakitnya yang dulu membuat ia membandingkan dirinya dengan ibu kandungnya, apa ia lebih baik? Hanya Tuhan yang tahu.

Yang ia rasakan hanya ingin berbuat yang terbaik untuk anaknya, tapi apa itu yang ibunya dulu lakukan? Entahlah begitu banyak hal yang kita tidak tahu di dunia ini. Begitupun dengan hati manusia. Hati ibu yang membiarkan anaknya pergi. Dan hatiku. Kenapa hatiku? Jawabannya, karena siapa bayi itu? Ya, dia itu aku.

Aku yang pernah merasa tebuang, kecewa dan terluka. Aku menyembuhkan lukaku sendirian... Tiada yang dapat mengobati hati selain pemiliknya. Itu yang berusaha aku lakukan dengan dukungan orang-orang yang mencintaiku sekarang..