Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juli 2014

Bekerja sambil ngasuh anak itu tidak mudah

Bekerja, menikah dan tetap memilih bekerja bukan hal yang sulit selama mendapat restu suami. Tapi selama hamil masih bekerja tak semua orang sanggup melakukannya, karena setiap kondisi kehamilan tidak selalu sama pada tiap orang.

Alhamdulillah, setelah menikah masih bisa bekerja, hamilpun masih bisa beraktifitas seperti biasa. Bahkan setelah melahirkan dan menghabiskan masa cuti yang pendek bisa kembali bekerja dengan normal. ASI pun masih bisa kuberikan dengan maksimal, sehingga tak ada perasaan bersalah yang berlebihan karena telah meninggalkan bayiku selama bekerja. Secara juga bayiku ada yang menjaga dengan baik.

Sekarang bayiku sudah tumbuh besar, usianya sudah menginjak 4 tahun. Meninggalkannya bekerja tak lagi semudah dulu, tinggal pamit sama yang menjaganya. Sekarang yang kulakukan untuk pamit bekerja lebih rumit, karena anak tidak selalu bisa diajak kompromi, terkadang ada saja syaratnya agar aku bisa lolos dan diijinkan pergi kerja. Artinya sekarang dia lebih sering menahanku untuk diam di rumah dan menghabiskan banyak waktu untuknya.  Ya, enak juga sih bisa seperti itu. Ibu mana yang rela terus menerus meninggalkan anaknya untuk bekerja? Tentu aku juga ingin bisa jadi ibu rumah tangga seutuhnya tapi masih bisa berpenghasilan walau hanya diam di rumah, tapi belum bisa sekarang. Rupanya perlu banyak ilmu dan kesabaran untuk mencapai sesuatu yang kita anggap hal yang nyaman dan membahagiakan. Aku harap selama aku belum dapat mewujudkannya, selama itu pula aku bisa mendidik anakku menjadi anak yang kuat dan pengertian bahwa ibunya bekerja karena sayang dan bukan sekedar mencari materi.

Selasa, 01 Juli 2014

Catatan hati seorang ibu..

Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, tentu semua orang sudah tau itu. Hal ini merupakan.tantangan yang nyata harus kuhadapi saat ini. Anakku yang terus bertumbuh besar memerlukan dukungan pendidikan yang paling utama ialah asuhan terbaik dariku sebagai seorang ibu.

Akhir-akhir ini, aku sedikit kewalahan menghadapi anakku yang aktif, tak hanya saat bermain saat mau tidur dan kelelahan pun mulutnya tak berhenti bicara tentang hal-hal yang ia ingin ketahui. Tentunya aku senang artinya anakku tumbuh normal di usianya yang baru 4 tahun. Tapi ada yang aku khawatirkan karena aku tak selalu bisa mendampingi putraku ini. Aku bekerja secara sift. Ada 2 sift. Sift pagi dari jam 10 sampai jam 6 dan sift siang dari jam 2 sampai jam 8. Siftnya terbilang mudah untuk dapat berbagi waktu dengan anak, ya sedikit beruntung tidak seperti ibu yang bekerja full di kantornya sehingga sulit sekali menemukan kebersamaan dengan anak.

Tapi terkadang pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu itu justru menyita pikiranku, dan tidak jarang juga aku kurang konsentrasi dalam mengasuh anak. Akibatnya aku hampir lalai karena banyak pikiran. Sedih kalau anakku jadi korban, jangan sampai. Bagaimana ya, agar aku bisa enjoy di rumah tanpa kepikiran terus masalah kerjaan. Sementara memilih melepas pekerjaan bukan keputusan yang baik untuk waktu sekarang. Artinya aku harus punya solusi yang baik. Ya itu dia, aku tidak boleh bosan diam di rumah. Mungkin itu yang membuat kepalaku mumet di rumah, belum lagi kalau anak mulai banyak tanya ini itu. Duh, saking terus-terusannya gak berhenti ngomong dan berpikir jawaban apa yang pantas buat anak bisa ngehang duluan kepalaku. Akibatnya jadi stress, padahal udah kewajiban aku memberikan asuhan juga jawaban yang baik pada anakku.

Nah, hari ini aku libur. Giliran anakku menyerang dengan daya imajinasi anak-anaknya yang bermain. Aku siap-siap aja capek ngomong. Tapi aku harus bisa dan berhasil membuat dia paham dengan apapun yang ingin ia ketahui tentang dunianya. Inilah tugas ibu dan aku harus enjoy. Makanya aku harus bisa membagi kepalaku jadi dua. Yang satu urusan kerja satunya urusan anak. Urusan kerja harus kusimpan di lemari dan saat di rumah adalah waktunya senang-senang sama si kecil.

Artinya aku harus bisa berperan dan jadi teman si kecil yang baik.

Minggu, 29 Juni 2014

Rumah mama dan sakit

Seperti biasanya setiap akhir bulan keluarga kecilku ngungsi ke rumah orang tua. Alasannya karena tiap tanggal segitu suamiku menghadapi tutup buku di kantornya, sehingga memerlukan waktu lebih banyak dalam pekerjaannya.

Rumahku yang sekarang ada di Cibiru jaraknya memang lumayan jauh dengan tempat kerja suami dan aku. Aku yang kerja di daerah pusat kota Bandung, sedang suami yang bekerja di daerah Setiabudhi hampir menuju Lembang, pastinya banyak memakan waktu di jalan. Sedangkan kebiasaan akhir bulan mengharuskan suami pulang larut malam, secara langsung mempengaruhi waktuku juga. Kalau tidak ngungsi dulu di rumah orang tua (di kawasan Sukajadi), pastinya bakal kelelahan di jalan dan rawan juga naek angkot terlalu malam (kalau ngga dijemput suami). Maka dari itu tinggal sementara tiap akhir bulan di rumah orang tua menjadi solusinya.

Seperti sekarang aku sedang di rumah mama. Ada kebiasaan lain lagi setiap aku tinggal di sini yaitu sakit. Aku langganan sakit tiap tinggal di sini. Tidak tau kenapa badanku pasti langsung tidak enak atau tiba-tiba sakit kepalaku kambuh dan jadi parah kalau nginep di rumah ini.

Dulu sih sempet sering lihat hal-hal yang aneh di rumah ini, bukan cuma bayangan tapi jelas ada sosok yang bukan manusia. Tapi itu dulu, sampai bikin aku takut dan minta diobati agar tidak melihat hal-hal aneh lagi. Sekarang mataku tidak lagi melihat hal-hal seperti itu lagi tapi perasaanku masih mengatakan bahwa rumah ini ada sesuatunya.

Rumah ini memang aneh, dari dulu ketika awal pindah aku langganan sakit juga di sini. Itu waktu masih gadis. Dan sekarang sampai udah nikah dan dibawa pindah oleh suami, tiap menginap di rumah ini aku pasti sakit kompakan dengan anakku. Aneh, ada yang tau kenapa?

Rabu, 18 Juni 2014

Ya, Aku Bahagia

Tidak terasa pernikahanku sudah jalan 5 tahun, dan sudah mengalami berbagai cobaan, meskipun aku tak tahu apa cobaan yang lebih berat masih tersimpan di masa depan kami.

Dari hari ke hari yang kulewati selama ini, harusnya aku bisa banyak belajar. Terus belajar memahami diri sebagai wanita, istri juga seorang ibu.

Anakku yang kini berusia 4 tahun, menjadi penyemangat diri ini dalam mengarungi belantara rumahtangga, disamping suamiku tentunya sebagai motivator sejati.

Air mata ini tak bosan ia pandangi dan dihapuskannya dari kedua pipiku, meski hati ini seringnya malu karena masih rajin mengumbar air mata di depan suami. Hihi, mungkin aku tergolong melankolis jika bicara tentang cinta, hidup, dan kasih sayang.

Tapi aku bersyukur bahwa Allah membahagiakan aku selama berumah tangga, terlepas dari segala cobaan kami masih bisa bertahan dan bergenggaman tangan.

Ada kalanya diriku lebay dan rapuh. Kehadiran suami menjadi penguat batinku. Meskipun terkadang ceramahnya itu-itu lagi. Hehe, tapi aku sadari tujuan mulianya adalah untuk membentuk istri yang tangguh, bebas galau menghadapi cobaan. Aku terima dan alhamdulillah dihadiahi suami yang bertanggung jawab.

Thanks Allah, sudah memberiku hal yang indah di tahun-tahun belakangan ini. Meski setiap melihat ke belakang air mataku masih bersembunyi di sudut mataku. Ya, tapi aku harus tegas mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu. Dan harus yakini diri bahwa aku bisa bahagia dengan rumahtanggaku.

Ya, Aku bahagia!

Selasa, 20 Mei 2014

Cetak fotomu di Pictalogi!


Pictalogi - Cetak Foto Online
Hari gini hampir semua orang gabung di Sosial Media, facebook-lah, instagram, twitter, dll. Dan pastinya kesemuanya itu menampilkan foto-foto yang menarik.Di facebook saja, aku yang sudah gabung dari tahun 2009 mungkin ada seratusan foto lebih yang kuunggah. Mulai dari foto moment penting, liburan, hal-hal lucu, apapun deh pokoknya yang ingin kupublikasikan agar semua orang dapat kubagi cerita bahagiaku lewat foto itu.

Namanya juga Sosial Media, pastinya semua serba terbuka meskipun kita bisa mengatur keprivasian akun kita. Tapi bila kita mengunggah Foto sebaiknya kita memikirkan apakah foto tersebut pantas untuk dipublikasikan atau tidak. Jangan sampai ada unsur-unsur dari foto yang dapat memicu konflik atau membuat satu pihak sakit hati. Pastinya suka dong mejeng-mejeng di Sosmed? Kalau aku sih, kadang-kadang. Kalau pas datang narsisnya bawaannya pengen selfie-selfie ria habis itu share ke FB ataupun ke Instagram, seru- seruan aja sih..

Oh ya, dulu sebelum ada HP Camera, aku paling suka difoto habis gitu dicetak. Pastinya dong kucetak soalnya jaman dulu 'kan belum ada Camera Digital. Ah, yang namanya difoto itu langka banget. udah difoto terus 'gak dicetak? Duh, ga seru banget atuh.. gimana mau lihat hasilnya? Udah gitu'kan gak ada dokumentasinya buat kita. Jaman dulu 'tuh kalau foto-fotoan wajib dicuci cetak. Masih inget kan dulu foto 'tuh pake rol film. Hihi.. sekarang juga masih ada sih yang pake begituan. Cuma sekarang kita lebih mudah mendokumentasikan sesuatu. tinggal jepret-jepret aja, bisa pake HP, camera pocket, DSLR, Selfie pake WebCam pun bisa di Laptop.. hihi seru..ganjen-genjenan gitu jadinya.

Nah, sekarang foto-foto yang kuunggah di Sosmed malah bisa dicetak langsung loh ... Gampang banget, semua foto yang udah kita unggah di Sosial Media apapun bisa kita cetak di Pictalogi. Kadang-kadang kita perlu juga dong bukti fisik berupa foto? Makanya cetak aja foto banyak-banyak dengan Pictalogi. Kamu ga perlu dateng ke tempat cetak foto, cukup di rumah saja, foto kamu yang sudah diuggah di Instagram, facebook bisa kamu cetak. So, Cetak Foto Makin Mudah dengan Pictalogi ..

Hehe .., makin seru aja ya..
Buat kalian yang mau cetak foto ya ke Pictalogi aja .., follow nih twitternya!!









  

Sabtu, 17 Mei 2014

Kumpul keluarga

Sudah jadi kebiasaan di keluargaku mengadakan kumpul-kumpul bersama. Tapi sudah ada beberapa bulan terakhir acara ini ditunda karena alasan kesibukan. Oh, luar biasa kangennya, pas kemarin akhirnya bisa kumpul lagi, hebohnya tak terbayang.

Sudah jadi komitmen di antara kami, bahwa keluarga harus kompak. Untungnya rasa kebersamaan kita selalu terjaga karena silaturahmi.

Inilah mengapa penting kumpul-kumpul itu bagi kami. Hubungan yang bisa renggang akan erat kembali karena kebersamaan ini.

Kemarin saja, saking kangennya ketemu saudara. Nekat hujan-hujanan dari Bandung sampai Garut. Semua rasa pegel karena naik motor terbayar dengan sambutan hangat keluarga yang menunggu kedatanganku. Senangnya masih bisa kumpul. Bahagia bisa menjalankan amanat orang tua, bahwa yang namanya keluarga harus rukun dan kompak.

Selasa, 13 Mei 2014

Orang pandai itu aku

Sering kali  diri ini ngaku pengen jadi penulis, mungkin sebagian teman dan keluarga juga sudah tahu. Ada juga yang nungguin karyaku, loh..

Hehe jadi semangat siih..

"Kapan atuh teteh bikin novel?"

"Mana lagi atuh puisinya, kok jarang ngeposting lagi..?"

Ya, walau cuma segelintir yang menanyakan kabar keberadaanku di dunia pena itu. Hahay.. maklumlah pendatang baru yang belum ada jejak sama sekali.

Harusnya aku terus, terus, dan terus mengejar mimpiku. Tapi apa? Dulu, alasannya karena capek lah nulis pake hp bikin jempol kapalan.. lah, sekarang ada laptop malah sering dianggurin (kumaha sih?)

Sekarang pake alasan ga pede, karena udah ketinggalan ilmu banyak.. hadeuh, mau sampai kapan atuh nya diriku teh akan maju ..?

Ada aja alasan yang bikin mandek. Udah dikasih kemudahan dengan ikut di grup-grup menulis.. Hehe, malah tambah gak pede.

Kasihan atuh laptop nganggur terus, malah dipake nonton film.. hihi. Dasar, tidak bertanggung jawab, niatnya beli 'kan biar bisa mengasah kemampuan menulis (eleuh-eleuh malah menyelewengkan fungsi ini teh)

Gusti, sekarang aku malah nyari-nyari si ide buat dipake alasan, kenapa aku gak nulis-nulis.

Kalau ada orang yang pandai itu pasti aku, pandai cari alasan..

Hadeeuuh!

Shilpa Yahya

Punya Gusi, Bikin Bingung




"Ah, sakit.."

"Yang ini? kalau digoyang gini, masih sakit?"

"Aw .., sakit." keluhku.

"Diam dulu, jangan bergerak." Perempuan itu mengambil sesuatu yang tajam. "Buka yang lebar!"

Aduh, Dia masih mengorek-ngorek benda tajam itu di rongga mulutku. rasanya sakit sekali. Ampun, kenapa aku tiba-tiba nyasar di poli gigi. Hikz, gigiku 'kan gak sakit (tadinya).

**

"Bu Willy, 37 tahun.."

"Bu Willy .., ada Bu Willy .." Petugas itu masih memanggil-manggil tapi pasien yang dimaksud belum memunculkan batang hidungnya.

"Bu Willy, Bu Willy!" perempuan itu memperhatikan lagi berkas daftar pasiennya. Keningnya berkerut dan mulutnya bergerak seperti mengeja sesuatu. "Oh, Wiwi .. Ada?"

Itu aku, segera kumendekati ruangan Dokter.

"Saya Bu.., Wiwi 27tahun.." terang saja tidak ada yang muncul. Tahunya yang dari tadi dipanggil itu aku.

"Ya, masuk saja.."

 Kutemui di ruangan itu seorang Dokter perempuan, kemudian Dia mulai menanyaiku tentang keluhan kesehatan yang sedang aku alami.

"Gusiku sering berdarah, Dok. Tapi gigiku gak sakit. Sering sariawan juga, berdarah terus .."

"Coba saya alihkan ke bagian gigi ya? Disana nanti Dokter bisa menangani.."

Sreeet,Sreeet... Dokter itu menulis di atas secarik kertas yang kemudian Ia serahkan padaku. "Langsung saja ke polygigi, ini surat rujukan dari saya.., disana nanti sampaikan lagi keluhan ibu, apa.."


***

Rupanya antrian dibagian gigi tak sepanjang di bagian umum, tapi disini menunggu panggilan satu orang itu lebih lama. Ah.. antri lagi deh..

Dan akhirnya namaku di panggil juga .. Dan beginilah keadaanku saat ini, nasibku ada di tangan Dokter gigi ini.

"Aw sakit, Dok."

"Iya sudah, kumur-kumur dulu"

Sudah? Alhamdulillah, selesai. Habis gigiku diotak-atik. Parno juga takut dicabut..

"Jadi kenapa Dok, gusiku sering berdarah?"

"Tadi itu, ada karang gigi yang letaknya dalam sekali. Kemungkinan juga ada abses karena bakteri. Tapi dicoba diobati dulu pake antibiotik."

Dokter itu lantas menulis resepnya untukku. Hooh.. leganya cuma dikasih obat.

Abses, abses, apa itu?

Sesampainya di rumah, aku lantas searching via google. Apa ya abses itu?
Rupanya itu kerusakan pada gusi yang disebabkan oleh bakteri, sehingga gusi membengkak dan bernanah. Tapi gusiku enggak bengkak gitu kok.. kenapa Dokter bilang gusiku abses ya? gigiku juga ngga berlubang, justru jadi ngilu karena dikorek-korek tadi. Hemm .., jadi parno ada penyakit lain.
Sakit apa dong, aku ini? Masih bingung, sambil nerusin makan obat ...

Selasa, 06 Mei 2014

Oh, ternyata...

Pernah nonton sinetron Tukang Bubur Naik haji 'kan? Tahu dong siapa itu Muhidin? Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya berhadapan dengan karakter Muhidin di kehidupan saya. Oh, memang manusia gudang kesalahan, begitupun saya sebagai manusia biasa, tak dapat mengendalikan emosi saya setiap berhadapan dengan orang yang berkarakter "nyeleneh" itu. Saya sebut demikian karena orang tersebut tahu mengenai ilmu agama dan dikatakan mumpuni secara dia seorang haji (entah berapa kali..) tetapi dalam pelaksanaannya tak satupun ilmu yang ia pakai ketika dihadapkan dalam sautu masalah, yang dikedepankan cuma emosi. Ilmunya hanya teori yang ia ingat dalam pembahasan saja tidak untuk mengendalikan prilakunya dalam bermasyarakat.

Ceritanya dua hari yang lalu saya mendapat keluhan dari Ibu yang membesarkan saya, katanya beliau sering mendapat sms yang berbunyi kurang enak di hati dari salah satu mantan tetangga kami dulu yang sebetulnya masih kerabat jauh. Entah bagaimana mulanya beliau mengorek-ngorek permasalahan yang sedang ibu saya hadapi dengan seorang klien yang masih tetangga dengan sosok Muhidin tersebut. Memang ibu saya sedang dihadapkan pada sebuah perkara, sebetulnya tidak rumit hanya salah paham saja. Dengan niat sebagai pahlawan si Muhidin perempuan itu datang tanpa tedeng aling-aling mengatas namakan klien ibu saya, meminta pertanggung jawaban atas kasus yang sebetulya tidak ia pahami. Intinya ia memfitnah ibu saya seolah ibu saya telah menipu dan merugikan klien ibu saya. Hal ini justru jadi rumit, yang tadinya permasalahannya cuma tinggal menunggu waktu saja jadi makin tak dimengerti. Ibu saya dibikin pusing oleh kata-kata ancaman darinya. Dengan bunyi-bunyi sms yang seolah memperingatkan bahwa kita sebagai manusia harus bertindak jujur dan menjaga kepercayaan. hah .., tentu saja harus, tapi tidak dalam situasi ini, karena masalahnya bukan ibu saya yang berbohong. Ini cuma salah paham. Untungnya ibu saya bersikap dingin dan tak menggubris ancaman dari seorang Hajah tersebut. Alhasil ketika waktunya tepat permasalahanpun selesai dengan sendirinya. Apa-apa yang diharapkan oleh klien Ibu saya terpenuhi sesuai dengan perjanjian. Akhirnya, ibu saya juga menyampaikan unek-uneknya pada kliennya bahwa selama proses penyelesaian (sebut saja perkara) beliau mendapat ancaman dari Hj Muhidin tersebut. Dan apa yang dikatakan kliennya? Ia benar-benar mengucapkan maaf dan terimakasih karena ibu saya bersabar dalam menolongnya. ia tak pernah sama sekali menyuruh orang itu untuk ikut campur dalam urusan Ibu saya dengan dia. Ah, terlalu banyak orang dengan karakter itu di lingkungan saya. Kasihan ibu saya menjadi seorang Emak dalam kehidupan nyata.. Muhidin yang sotoy, sok benar tapi tak punya kaca di rumahnya.

Ini Hj. Muhidin versi Ibu saya .. ada lagi Muhidin lain di kehidupan saya, nanti saya ceritakan di postingan yang akan datang ..

Oh, ternyata hidup itu seperti sinetron..

Minggu, 27 April 2014

Dicap bohong itu sakit, Marisol!

"Kamu bicara apa?" Ibu guru menanyaiku.

"Itu Bu, rok yang Eli pakai itu punyaku. Tadi dia langsung pake baju olah raga dari rumah Bu .., itu punyaku." Aku bersikeras Eli telah mengambil dan memakai rok seragam sekolahku. Hari ini ada penjaskes biasanya akupun langsung memakai pakaian olah raga, tapi karena pulang sekolah nanti aku mau ke tempat ibu, jadinya aku rangkap celana olahragaku dengan rok merah itu.

Tapi selepas olah raga, kemana perginya rokku? Loh, ko temanku  jadi pakai rok, tadi kan dia tidak pakai. 

Saat kutanya dia langsung berkilah. Padahal sudah jelas itu rok yang kupakai tadi sebelum jam olahraga dimulai. Sangat yakin itu rokku karena aku menandainya dengan tip-ex dibagian bawahnya.

Kulaporkan Bu Guru, apa yang terjadi? Bi Guru malah bilang, aku tak boleh berbohong.

Sampai sekarang masih aku ingat kejadian itu. Guru itu, temanku yang itu juga tak pernah kulupakan. Aku hanya tertawa, sebegitu tak berartinya aku di masa lalu. Bahkan untuk percaya pun, Guruku sendiri tak mengusahakannya untukku.

Tak sekali itu saja, temanku yang satu itu pandai sekali berbohong. Dan sering kali aku yang jadi korban. Tapi setelah kelas 6, semua teman jadi tahu sifatnya. Hanya Guru itu yang belum tahu kebenarannya, ya bikin aku penasaran seumur hidup.
Hal semacam ini juga yang membuat aku malas sekolah. Kalau sekarang istilahnya "dibully" mungkin ya, dulu aku sering diperlakukan tidak adil. Makanya, aku tumbuh jadi orang yang emosional.

Aku tidak menyalahkan siapapun atas diriku sekarang. Tapi aku hanya mau bilang, yang namanya luka benar-benar membekas dan susah untuk hilang, apalagi dalam benak anak kecil, sampai dewasapun ia akan membawanya.

Dicap bohong itu sakit, Marisol!

Sabtu, 26 April 2014

Jangan jadi orang yang gak tahu malu!

Seringkali, kebanyakan dari kita mengurungkan niat untuk berbuat suatu perkara dengan alasan malu. Saya juga sering mengatakan alasan malu, padahal ada alasan lain yang enggan diutarakan jadinya saya tolak dengan alasan yang simpel yaitu "malu".

 Tahukah kamu bahwa rasa malu itu wajib dimiliki oleh semua orang, karena hal itulah yang menjadikan diri kita dinamakan makhluk yang bermoral, adanya rasa malu menunjukan bahwa kita mengenal etika. Kita hidup tidak sendiri alias kita ini manusia yang tak dapat hidup terlepas dari lingkungan sosial. Tapi tahukah bahwa rasa malu itu dapat membawa pada hal yang positif dan negatif tergantung kita menseting rasa malu yang ada di mindset kita.

Untuk tahu apakah rasa malu yang kita miliki itu berdampak baik atau buruk, kita harus menelaah lebih dalam dan memilah mana rasa malu yang harus dienyahkan dan mana rasa malu yang harus di kembangkan.

Kita harus tahu dulu kapan dan mengapa rasa itu muncul? dan kita juga harus membedakan mana rasa malu dan mana rasa gengsi yang tidak perlu. Ingat bahwa malu bisa menjadi kunci sukses Contohnya ketika kita merasa malu menjadi manusia yang selalu tergantung pada orang lain, kita berusaha berjuang sekuat tenaga menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan menekan rasa gengsi (malu yang negatif). Sering kali banyak orang yang menilai pekerjaan baik buruknya dengan gengsi, misalkan kita menilai bekerja sebagai tukang sampah adalah hal yang memalukan. atau bekerja menjadi pengasuh itu lebih melalukan  dari pada menjadi perawat . Sesungguhnya pekerjaan yang baik, yang tidak mendatangkan malu itu bukan diciptakan dari seberapa besar penghasilannya, selama itu tidak merugikan orang lain dan tidak berbuah dosa tentu kita tidak harus merasa malu.

Zaman sekarang malu yang berkembang adalah malu yang negatif. Saya pun kadang merasa begitu..(harus ke bengkel hati ini mah...) pernah ga ngerasa malu karena pake hape jadul, baju lusuh, muka berminyak dll? Tapi apa sebenarnya itu perlu? ga usahlah melebay-lebaykan malu yang gak penting. Malu yang penting itu malu yang dapat merubah kita pada hal-hal yang baik. Misalkan kita malu menjadi pegawai yang dapet gaji buta, untuk itu kita harus berubah lebih produktif dalam pekerjaan yang insyaallah nantinya, rejeki kita yang diperoleh dari pekerjaan itu lebih barokah. Malu yang penting itu salah satunya adalah jadi orang cantik tapi dermawan sekali, lihat-lihatin bodynya secara gratisan, harusnya malu itu ada dalam situasi seperti ini. Ya malu yang positif wajib dikembangkan, tentunya bagi kita yang ingin selalu memperbaiki diri dan takut kehilangan arah dalam hidup. Begitupun malu yang negatif jangan dipelihara karena akan menggusur kita ke arah kemelaratan. Karena malu yang tidak pada tempatnya bisa berubah menjadi gengsi yang berlebihan dan menjuruskan kita pada gaya hidup yang hedonisme.

Tahukan kamu malu yang positif? So, jangan jadi orang yang gak tahu malu...

 Ayo, semangat menuju kebaikan..!

Senin, 21 April 2014

Siapa bayi itu?

Bertahun silam melegendalah sebuah kisah di kehidupanku.

Seorang ibu muda, cantik dan tengah hamil tua memiliki suami yang sakit-sakitan karena usia yang menua.

Saat sang suami diambang usia yang kian mengkerut dan kepayahan menghadapi setiap nafas yang berat. Sang suami memberinya mandat, bagaikan seorang kepala negara memberikan perintah pada sang menteri. Dengan kondisinya yang tak dapat lagi berbicara akibat tergerus penyakit, dituliskannyalah sebuah surat. Bisa dibilang itu sebuah wasiat yang ia tujukan untuk anaknya (dari istri sebelumnya) yang telah dewasa dan yang paling ia percayai.

Apa isi surat itu?

Surat itu merupakan sebuah pesan dari sang ayah untuk anaknya, agar mau merawat anak yang kelak akan dilahirkan oleh istrinya.

Apa yang terjadi?

Ketika ibu muda itu melahirkan, begitu singkat sekali waktu yang dirasakan bagi bayi itu untuk ada di pelukan ibunya.

Saat bayi baru berusia 4 bulan sang bayi diboyong menjauhi ibu kandungnya dan diasuh dengan kasih sayang oleh sang kakak.

Ketika Ajal menjemput pria renta tak berdaya. Apa yang terjadi pada bayi itu?

Si bayi telah berusia 5 tahun, dan terlalu dini untuk menghadapi kenyataannya. Disembunyikanlah status dirinya.

Apa yang ia tahu saat pemakaman ayahnya?

Yang ia tahu itu pemakaman kakeknya

Sedih, sedih bagi orang yang tahu kebenaranya.

Lebih sedih dan sakit saat bayi itu tau kebenarannya. Kecewa, terlalu banyak kebohongan di sekitarnya.

Terlebih saat semua terbongkar tak ada pengakuan yang dapat menghapus kecewanya. Masih saja ia merasa terbuang di tengah hidupnya yang seharusnya bersinar karena kebenaran telah terungkap.

Ibu, ibu, dia hanya ingin ibunya menyapu setiap bulir air mata kecewanya. Meredam amarah yang sempat ia rasakan. Tak bisakah itu terjadi?

Tuhan, siapa bayi itu?

Bayi itu kini telah memiliki bayi yang sudah besar. Kini diapun merasakan suka duka menjadi ibu. Rasa sakitnya yang dulu membuat ia membandingkan dirinya dengan ibu kandungnya, apa ia lebih baik? Hanya Tuhan yang tahu.

Yang ia rasakan hanya ingin berbuat yang terbaik untuk anaknya, tapi apa itu yang ibunya dulu lakukan? Entahlah begitu banyak hal yang kita tidak tahu di dunia ini. Begitupun dengan hati manusia. Hati ibu yang membiarkan anaknya pergi. Dan hatiku. Kenapa hatiku? Jawabannya, karena siapa bayi itu? Ya, dia itu aku.

Aku yang pernah merasa tebuang, kecewa dan terluka. Aku menyembuhkan lukaku sendirian... Tiada yang dapat mengobati hati selain pemiliknya. Itu yang berusaha aku lakukan dengan dukungan orang-orang yang mencintaiku sekarang..

Minggu, 20 April 2014

Sedihku di Kebun binatang..

Kejadian ini sudah lama..

Aku, Papi dan Faiz main ke Kebun Binatang. Kita bareng rombongan dari kerjaan Papi yang baru.

Minggu pagi yang cerah, di fikiranku.

Aku sibuk ngejar-ngejar anak kancil yang ari tadi gak mau diam.
"Aduh.. Faizzz..." teriakku, "capek.. ah Pi."

"Siapa suruh pake wedges?" Balasnya.

Uh sebel, gara-gara wedges ini jadi gak bebas bergerak. Pegel!
Sedih main di Kebun Binatangnya jadi gak asyik. Belum lagi Faiz yang parno sama gajah. Ah, jadi gak seru kan?

Setelah berkeliling dan menunggu sekitar satu jam akhirnya rombongan lengkap. Papi dan semua teman-temannya. Oh, ada juga dia. Kok, aku jadi sakit hati ya melihatnya? Iya benar itu dia teman Papi yang ada di contact BBM papi.

Jadi benar ya itu istrinya. Tidak ya Allah jangan sampai Papi seperti laki-laki itu. Suasana yang senang ini jadi terganggu karena aku jadi banyak mikir tentang perempuan itu. Iya, istrinya teman Papi itu.
Aku kasihan padanya.

Melihat mereka berdua begitu bahagia. Mungkin itu yang dirasakan perempun itu, tepatnya aku tak tahu. Tapi melihat isi contact BBM papi waktu itu aku jadi ikut sakit hati. Kenapa?

Pria itu punya BB dua, semuanya ada di daftar contact BBM papi.
Dengan PP dia bersama wanita yang berbeda. Kok bisa? Setelah kutanya papi, akhirnya aku tahu. Itulah bisa-bisanya laki-laki. Jadi sedih mikirin perasaan orang.

Papi jangan gitu ya?! Jangaaaaannn!

Jumat, 18 April 2014

Ada-ada saja..

Tak pernah terbayangkan setelah menikah jadi seperti ini. Kaget? Pernah sih. Sekarang ngga lagi.
Tapi ada-ada saja pengalaman dan hal baru yang mungkin tak akan terlupakan.

Aku yang menikah muda merasakannya. Tinggal terpisah dengan orang tua, berbagai aktifitas yang terbilang baru harus aku geluti. Semua serba sendiri. Karena aku adalah seorang istri.

Masih aku ingat waktu gadis, aku masih bisa tidur selepas shalat subuh dan menunda aktifitasku menahan semuanya di balik selimut dan bantal yang kupeluk. Tapi kini, mustahil aku lakukan jika ingin jadi istri yang baik di mata suami. Leha-leha itu tak ada lagi.
Ya, walau terkadang curi-curi waktu buat memanjakan diri, boleh kan?

Seperti, pernah saat awal ngontrak di sebuah rumah yang jauh dari daerah asalku. Waktu itu baru sebulan menikah dan masuk bulan Ramadhan. Aku yang pengantin baru keteteran mengurusi makan sahur anak orang alias suamiku. Tidak seperti dulu, bangun ya tinggal makan. Selepas Sholat bisa ngelanjutin tidur. Ciri aku gadis tukang leha-leha.

Setelah jadi istri, puasa sama saja dengan kerja ekstra. Mulai dari makan sahur sampai berbuka. Belum lagi jam malam yang tak pernah dilewatkan suami, setelah tarawih atau menjelang sahur maklum pengantin baru, cape deh!

Kebayang ga setiap habis sahur harus shampoan? Pusing kan tu kepala. Hehe..

Masalah shampo ada lagi ceritaku masih di bulan Ramadhan.

Awal tinggal di rumah itu aku tidak tahu bagaimana nyalakan mesin air. Aku yang lagi keramas tiba-tiba kelabakan nyari air karena bak kosong aku putar keran rupanya tak keluar air. Suami nyari-nyari colokan ataupun tombol yang bisa membuat air keluar dari keran tapi tidak ketemu. Antara bingung dan gak tahan karena mata perih terkena shampo akhirnya aku lanjutkan keramasku dengan air galon yang dicabut dari dispenser, untungnya masih penuh jadinya cukup untuk mandi sampai beres, dan bisa puasa seperti biasa. Itu mungkin kisah yang masih aku ingat, apalagi sekaran sudah mau puasa. Hehe jadi teringat lagi, Ada-ada saja pengantin baru.. Setiap orang pasti punya kenangan seru, kamu juga gitu kan?

Minggu, 06 April 2014

Anak bukan kepunyaan..

Hari senin biasanya aku libur, tapi karena meeting aku harus datang. Dan masuk cuma pas jam meeting.
Beres meeting, bergegas pulang kasihan anak, libur-libur ditinggal juga. Turun lewat lift biasa. Dalam benak cuma pengen cepet-cepet pulang dan ngasuh si kecil.

Di lift ketemu teman lama, waktu dulu kerja di Outlet, dia kerja di cafe depan Outlet. Sekarang dia kerja satu gedung denganku, tapi di foodcourt lantai paling atas. Biasalah sapa-sapa, nanya kabar dan lain sebagainya. Hingga akhirnya ia nanya, "kamu udah punya anak?".

"Alhamdulillah, A.." jawabku.

"Kenapa ya, aku belum aja? Hehe, udah tujuh tahun aku mah belum wae.." katanya seolah curcol.

"Belom aja kali A, kecapean juga mungkin." Aku jawab begitu, karena setahuku kerja di foodcourt itu melelahkan.

Lantas ia membahas hal yang lain, seraya pamit dan kamipun berpisah karena beda tujuan.

Aku duduk di lobby luar, nunggu suami ngejemput, ojek dadakan daripada ngangkot, lama di jalan. Hemat ongkos pula.

Pikiranku, inget Faiz, Faiz, Faiz. Kebayang juga temanku yang 7 tahun belum dikaruniai anak. Duh, pastinya sedih.

Aku tahu anak itu titipan, yang namanya dititipi berarti bukan kepunyaan. Jangankan kita bisa mendapatkannya sesuka hati. Bila kita diberipun bisa sewaktu-waktu diambil yang punya. Ngilu..banget hatiku ngebayangin anakku yang lagi nunggu di rumah. Ada rasa bersalah karena ninggalin dia kerja. Tapi balik lagi karena aku fikir anak itu hanya titipan maka kita harus bisa menjaganya sebaik mungkin. Ada pertimbangan dimana saat ini aku lebih baik dan lebih bermanfaat bila aku kerja daripada ngasuh anak di rumah. Dan untungnya anakku ada yang jagain dan lebih berpengalaman dibanding aku.

Tit..titttt..

Klakson motor membuyarkan lamunanku. Suamiku sudah nangkring di atas motor. Senang rasanya mau pulang ketemu Faiz..

Faiz mamah pulang, kata hatiku..

Kamis, 03 April 2014

Ngapain nulis?

Menulis itu hobby, cinta, kesukaan, nafas dan hidup. Di level mana anda meletakan arti penting dari kegiatan ini?

Ada yang bilang menulis itu terapi, ya kalau aku mungkin sependapat dengan ini. Karena jika aku tahan keinginanku untuk menulis ideku musnah dan kepalaku rasanya pecah. Dan apa yang ingin aku tulis sesungguhnya hanya sederhana, hanya emosi, ya seringnya emosi.

Pertama aku menganggap menulis itu bukan bakat, jelas aku tak punya bakat. Aku hanya merasa senang saat aku yang penuh emosi kemudian menulis, selesai dan saat dibaca berulang-ulang muncul perasaan yang berbeda di hatiku. Perasaan yang stabil dan menenangkan.

Ada satu orang yang sepertinya terganggu dengan aktivitas menulisku. Kemudian ia bertanya, "Hey, ngapain nulis? Emangnya mau jadi penulis? Temenku aja susah waktu ngerintis jadi penulis, harus punya bakat. Sekarang dia udah terkenal loh..terus kamu kenapa nulis ?"

"Ya, suka aja". Jawabku simpel.

Terus dia ngoceh dan nyombongin temennya yang udah jadi penulis itu, katanya sih itu juga. Helooww... Apa cuma penulis sungguhan yang boleh menulis?

Gara-gaa dia, akhirnya aku benar-benar percaya bahwa menulis itu terapi buatku. Terapi dari orang-orang yang seperti ini. Di mana dalam tulisan aku memiliki duniaku sendiri, terbebas jauh dari orang-orang macam ini.

Bahagia, tenang dan damai alam duniaku sendiri.. impianku, tulisanku adalah obatku.

Sabtu, 29 Maret 2014

Dasar agama itu penting

Apa yang terjadi jika kita dan pasangan berbeda keyakinan? Tentu Allah melarangnya bukan?

Simak kisah tetangga saya yang satu ini.

Sebut saja Melati Putih Berseri, bersekolah di Madrasah dan memiliki pegangan agama yang cukup. Setelah lulus sekolah, dia memutuskan bekerja di Bandung. Entah bagaimana awalnya akhirnya dia dipersunting oleh Mas Bambang Super Yahut.

Mereka menikah secara Islam, dan ternyata Mas Bambang adalah seorang mu'alaf.

Waktu terus bergulir hingga badai rumah tangga hadir di antara keduanya. Sebagai seorang yang baru belajar agama, Mas Bambang kurang dapat memahami arti tanggung jawab seorang suami. Hingga sering memperlakukan istrinya dengan semena-mena. Dan pada usia pernikahan yang terbilang muda itu, Mas Bambang meninggalkan Melati begitu saja, sebatang kara dalam pengembaraan. Melati tetap bersabar dan dalam hatinya masih menghapkan agar Bambang dapat kembali padanya.

Singkat cerita, Bambangpun hadir lagi dalam kehidupannya, masih sebagai suami. Hadirnya Bambang membuat harapan Melati berkembang. Melati yang sejak lama mendambakan keturunan tentu bahagia karena sang suami mengasihinya kembali. Bambang menampakan kebaikannya setelah lama pergi, ia mulai menunjukan keseriusannya menjadi seorang suami dan calon ayah, karena selang beberapa bulan ia kembali Melati lantas hamil.

Betapa gembira hati Melati saat itu. Impiannya menjadi ibu akan segera tercapai.

Akhirnya ia melahirkan anak perempuan pertamanya. Saat inilah keanehan mulai ditampakan oleh Bambang. Ia tak sudi anaknya diberi nama islami. Alasannya, ia tak ingin kekhasan namanya kelak akan mengganggu di masa yang akan datang. Karena tahu watak suaminya yang keras, akhirnya Melati membiarkan suaminya yang memberi nama pada anaknya terciptalah sebuah nama yang jauh dari kata religius secara islami. Hati Melati kecewa.

Semenjak kelahiran putrinya itu, sikap Bambang menjadi aneh, keluar lagi tabiat lamanya. Bahkan Bambang tidak lagi belajar agama, dan meninggalkan solat yang baru saja ia hafal. Tiap minggu Bambang pergi dan beralasan ada acara keluarga di rumah kakaknya.

Makin hari rumah tangganya sering dihiasi oleh cekcok mulut.
Tak jarang mereka bertengkar karena anaknya bersin atau bertanya sesuatu tapi mereka punya jawaban yang berbeda.

Pernah suatu ketika anaknya yang biasa dipanggil Lia bersin di depan kedua orang tuanya itu.

Lantas Melati menimpalinya,"bilang Alhamdulillah, Nak.."

Tapi bambang bersikeras anaknya tidak boleh mengatakan apa yang diperintahkan ibunya. Bambang berteriak-teriak kata-kata keagungan untuk Tuhan yang ia sembah dulu.

Di saat itulah suami istri itu bertengkar. Karena seringnya bertengkar,  merekapun akhirnya tak dapat lagi mempertahankan rumah tangganya. Mereka bercerai, sang suami membawa anaknya ke kampung halamannya dan di asuh berdasarkan ajaran agama dia yang dahulu.

Rupanya Bambang tidak bersungguh-sungguh menjadi mu'alaf, dia melakukannya agar bisa menikahi Melati, dan setelah anaknya lahir ia tak mau anaknya dibesarkan dengan pendidikan Islam.

Sungguh tragis kisah yang dialami Melati ini, tertipu cinta. Hingga mendapat suami yang tidak baik, bahkan kini tak bisa bertemu dengan anak perempuannya.

Ini bisa jadi pelajaran untuk wanita yang sebaiknya bisa mengatakan tidak untuk memiliki hubungan percintaan dengan pria yang tidak seagama.

Walau tak jarang juga kita menemukan kesungguhan  dari cinta seseorang yang akhirnya mendatangkan hidayah untuk dirinya. Dan ia bisa menjadi mu'alaf yang bersungguh-sungguh dalam mencari ridha Allah.

Selebihnya hanya Allah yang tahu dengan ke Maha Besarannya.

Kamis, 27 Maret 2014

Ragara shampo, Upss..

Jika mendekati akhir bulan seperti ini, sudah biasa jika hampir semua keperluan di rumah habis. Mulai dari sabun cuci, sabun mandi, shampoo, juga alat-alat makeup pun mulai aku irit-irit. Ya, supaya cepet ketemu sama gajian dan bisa belanja lagi. Tapi bulan ini memang pemborosan sepertinya, karena keperluan tadi sudah habis sebelum waktunya. Ya, aku terpaksa deh belanja di swalayan deket rumah dengan harapan belanja seperlunya aja.

Dasar belanjanya yang terburu-buru, niatnya supaya gak lirik-lirik sama barang lain. Eh, malah salah ambil. Tadinya aku gak ngeh sih. Setelah kubayar dan dibawa pulang itu belanjaan aku cek satu persatu, masih gak ngerasa ada yang aneh.

Malamnya seperti biasa aku menghabiskan waktu beristirahat dengan kedua cintaku di rumah. Mereka gantian minta diperhatikan. Faiz yang minta dieluas-elus punggung sampai tidur,udah gitu Papi gak mau kalah minta ditarik-tarik rambutnya. Emang kebiasaan, tau aku ngantuk suamiku sengaja cari perhatian. Ada aja manjanya suamiku terlebih kalau Faiz sudah tidur. Niatnya malam ini aku pengen nulis ideku yang dari tadi siang sempet berseliweran di kepala, tapi apa boleh buat semakin malam suami terus-terus kasih sinyal. Bahaya kan kalau sinyalnya dianggurin bisa ngadat. Aku turuti segala kemauan suami malam ini dan karena memang kemauanku juga sih. Kebiasaan aku selalu bersembunyi di balik kemauannya hehe.. padahal sama-sama mau..

Terjadilah malam jum'at romantis yang ada cuma kita berdua, untuk sementara Faiz gak dianggap karena diungsikan dulu di kamar sebelah (bukan ke tetangga sebelah ya..)

Eng..Ing..Eng  (sensor) dan terlelap dengan mimpi yang indah.

Terbangun karena alarm yang biasa bunyi pukul 4, kontan mataku merem melek karena masih ngerasa ngantuk.

Aku nyalakan kompor, masak air untuk mandi. Sengaja masak airnya pake panci yang besar supaya cukup untuk berdua.

Aku mandi duluan, sengaja tak aku bangunkan suamiku biar tak ada gangguan.

Aku nyalakan mesin air, suamiku terbangun, "jam berapa ini? Teriaknya.

"Jam 4 lebih, bangunlah cepat mandi." Jawabku.

Aku lanjutkan ritual mandiku pagi ini, menyiram-nyiramkan air dan kuambil botol shampo yang baru kubeli, sudah terbayang rasa segar dikepalaku nantinya. Kubasahi rambut yang ikal ini. Byurr ..tapi tak merasa dingin karena pakai air hangat kubuka tutup botol shampo itu kukeluarkan isinya. Tapi kok kental ya, lengket lagi. Merasa aneh, kemudian aku baca. Oh ternyata ini conditioner. Alahmaaakkk... Mandi wajib tanpa shampo gimana ini? Terlanjur dikelurian isinya, ya sudah aku gosok-gosokan dikepalaku saja. Siram air banyak-banyak tapi rasanya aneh karena tidak berbuasa. Aku ambil sabun cair, ya sudah keramas pakai sabun saja.
Alhasil, rambutku tetep lengket dan keras.

Mandi wajib dengan keramas asal-asalanpun beres, yang penting gak ketinggalan shalat subuh.

Saat suami hendak mandi, aku bilang shamponya gak ada. Dia bilang, "ya sudah, pakai sabun saja."

Enteng banget jawabnya. Ingin segera pagi, ke warung beli shampo dan mengulang mandi.

Saat beres solat subuh, suami memperhatikan wajahku, mungkin karena masih majang muka bete gara-gara shampo.

"kenapa masih kurang? Hayu lagi aja, mumpung Faiz masih bobo.." kalimat ini yang tak bisa dihindarkan tiap subuh menjelang pagi. Takut dilaknat malaikat makanya aku bilang, "hayu aja.."

Takut apa doyan ya? Gak taulah, yang penting suami senang..hihi..

Lupa deh bete gara-gara shamponya.

Hahaha...

Rabu, 26 Maret 2014

Mengapa kami membawamu kesini?

Senja itu, senja terakhir kau bertemu dengannya.

Saat genggaman tanganmu terlepas, dia menangis sejadinya. Mungkin kenangan ini satu-satunya yang kamu ingat tentang dia.

Waktu telah begitu cepat berlalu, kini kau ditemani wanita itu, yang masih kau sebut mama, aku bahagia dapat melihatmu dari kejauhan.

Kamu begitu cepat dewasa, nak meski pada usiamu yang sudah 12 tahun kau tampak begitu mungil, khas ibu kandungmu.

Kau bertanya lagi pada wanita itu, "benar yang ini kan ma?"

Ingin sekali aku yang menjawab benar, nak ini dia. Ini makamnya yang kelak akan menjadi jawaban segala pertanyaanmu.

Kau datang dan mendoakannya, aku yakin diusiamu yang makin besar kau mulai berfikir tentang kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di sekitarmu. Aku tau nak, ini berat. Maka dari itu jadilah gadis yang kuat.

Suatu saat akan ada cerita dimana kau akan tau tempat apa yang selalu kau kunjungi ini, disinilah dia bersemayam,Nak. Akulah kakakmu yang kau kenal sebagai adik tiri ibumu,aku mengantarkanmu kesini, karena inilah makam ayahmu, ayah tiriku dan ayah wanita yang kau kenal sebagai mamamu. Walaupun kau kenal tempat ini sebagai makam kakekmu. Nanti kau akan tahu kebenarannya, dan kau akan tahu siapa ibumu. Aku tak kuasa memberi tahunya.

Untuk itu bersabarlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya..

Mungkin silsilah akan begitu membingungkan buatmu.

Aku tak tahu, kenapa mereka selalu membawaku kembali ke tempat ini?

Sorepun menampakan wajahnya dengan tanda mentari yang kelelahan dan mulai menunduk menjauh dari ketinggian langit, ia malu dan tersamar senja yang kemerahan...

Oh hariku lelah, setelah seharian berkunjung ke rumah saudara dan kerabat mama. Liburanku membosankan selama beberapa hari ini di kota kelahiranku, Cirebon.

Tak ada yang membuatku semangat berada di sini, semua tampak sama tak kukenali wajah-wajahnya, bahasanya apa yang menjadi pembicaraannya, tak membuatku tertarik sama sekali. Aku akan semangat jika nanti pulang ke Bandung.

Ya, besok aku akan pulang. Entah apa pulang atau pergi, sebenarnya di mana rumahku? Di sini ataukah di Bandung?

Jika aku pulang, ada saja ritual yang selalu mereka buat. Sebelum aku pulang mereka selalu mengantarkanku ke suatu tempat yang jauh. Berjalan kaki dengan melewati hamparan rumput dan tanah yang berbatu, ditemani angin-angin dipersawahan. Oh mengapa mereka selalu membawaku ke tempat ini.

Ditengah perjalanan aku selalu bertanya, "Mah, sebegitu pentingkah bagiku untuk selalu singgah ke tempat ini?"

"Ya, tentu saja" katanya, "kamu bisa tahu dia itu kakekmu sudah sewajarnya kita mengingat beliau."

Sampailah kami pada gundukan tanah yang mengering. Di tempat ini terlalu banyak gundukan tanah yang serupa, tapi entah bagaimana mama masih ingat letak makam kakek dengan tepat. Tak ada batu nisan ataupun marmer di sana.

Kami duduk, terdiam.
Masih saja aku bertanya, "benar yang ini kan mah?"

"iya yang ini, tandanya pohon jati ini." Yang menjawab pertanyaanku bukan mama, malah adik tiri mamaku yang sejak tadi mengantarkan kami berdua kesini.

Aku masih ingat ketika kakek dimakamkan beberapa tahun yang lalu, saat usiaku masih 5 tahun. Begitu banyak derai air mata yang mengiringinya dan begitu banyak orang yang menangisi keberadaanku. Padahal aku tidak begitu kenal dengan kakekku, sejak aku lahir kakek sudah terkena stroke dan aku tak pernah berbicara dengannya.

Hal yang paling kuingat tentang kakek adalah genggaman tangannya yang seolah tak ingin lepas dariku, dengan linangan air mata yang mengalir deras. Saat itu terakhir kali kulihat kakek masih bernafas, karena setelah beberapa bulan kemudian kami kembali menemuinya untuk memakamkannya.

Di pemakaman itu aku menjadi sosok yang tak tahu apa-apa. Mereka menangis, berbagi kisah, mengenang kakek dan ketika mereka pergi mereka kembali melihatku dengan mata yang nanar, berbisik dan meneteskan air mata.

Andai saja bisa ku tanya saat ini pada kakek, mungkin kakek akan berkata jujur. Tapi tinggal gundukan tanah yang ada di hadapanku kini. Engkau tak dapat berkata. Tapi aku yakin suatu saat akan ada jawaban, dan mungkin nanti aku yang akan menangis untuk kakek. Ya entahlah, mengapa mereka selalu membawaku kesini, ke makam kakekku, Yahya Dasmo...

Dan mengapa mereka selalu bilang "iki anake kita.." tentu nanti pasti ada jawabannya.