Minggu, 20 April 2014

Sedihku di Kebun binatang..

Kejadian ini sudah lama..

Aku, Papi dan Faiz main ke Kebun Binatang. Kita bareng rombongan dari kerjaan Papi yang baru.

Minggu pagi yang cerah, di fikiranku.

Aku sibuk ngejar-ngejar anak kancil yang ari tadi gak mau diam.
"Aduh.. Faizzz..." teriakku, "capek.. ah Pi."

"Siapa suruh pake wedges?" Balasnya.

Uh sebel, gara-gara wedges ini jadi gak bebas bergerak. Pegel!
Sedih main di Kebun Binatangnya jadi gak asyik. Belum lagi Faiz yang parno sama gajah. Ah, jadi gak seru kan?

Setelah berkeliling dan menunggu sekitar satu jam akhirnya rombongan lengkap. Papi dan semua teman-temannya. Oh, ada juga dia. Kok, aku jadi sakit hati ya melihatnya? Iya benar itu dia teman Papi yang ada di contact BBM papi.

Jadi benar ya itu istrinya. Tidak ya Allah jangan sampai Papi seperti laki-laki itu. Suasana yang senang ini jadi terganggu karena aku jadi banyak mikir tentang perempuan itu. Iya, istrinya teman Papi itu.
Aku kasihan padanya.

Melihat mereka berdua begitu bahagia. Mungkin itu yang dirasakan perempun itu, tepatnya aku tak tahu. Tapi melihat isi contact BBM papi waktu itu aku jadi ikut sakit hati. Kenapa?

Pria itu punya BB dua, semuanya ada di daftar contact BBM papi.
Dengan PP dia bersama wanita yang berbeda. Kok bisa? Setelah kutanya papi, akhirnya aku tahu. Itulah bisa-bisanya laki-laki. Jadi sedih mikirin perasaan orang.

Papi jangan gitu ya?! Jangaaaaannn!

Merananya Lara

Namaku Lara, seumur hidup aku menjomlo. Bukan karena tak cantik tapi aku seperti terhapus dari dunia ini. Semua karena ibuku, maaf bukan maksudku menyalahkannya.

"Lara itu kan gadis yang cantik, udah gitu pinter lagi. Ya jangan gegabah mana mau saya jodohkan anak saya itu dengan laki-laki yang kemarin kamu bawa. Kamu ini gimana sih?" Kata itu yang selalu ibu ucapkan ketika ada yang mendekatiku tapi tak cocok dengan selera ibu.

Semua bukan tentang pilihanku tapi tentang selera ibu.

Pernah satu hari aku mengajak teman-teman kuliahku untuk mengerjakan tugas di rumahku. Kami berkelompok dan semua berbaur laki-laki dan perempuan. Ketika itu ada Dodi yang selalu dekat dan perhatian padaku. Dodi itu seorang yang supel dan mudah bergaul. Saat di rumahku, ibu menjadi terlalu memperhatikan kami.

"Oh ini ya, teman-temannya Lara? Ibu senang kalian mau datang temenin Lara. Sering-sering ya main kemari." Ibu ucapkan kalimat itu pada semua temanku saat mereka pamit pulang, tapi tidak saat mereka pergi dari pandangan kami. "Ibu tidak suka Ra dengan teman-teman laki-lakimu itu. Siapa dia yang begitu cari perhatian terhadapmu? Jangan pernah memilih laki-laki seperti itu. Mudah bergaul dan bersikap cuek. Cari itu laki-laki yang sopan, mapan dan sudah jelas masa depannya.." buntutnya ibu menceramahi aku panjang lebar dan lagi-lagi semua tentang seleranya.

Ia itu dulu. Aku selalu mengeluh tentangnya pada Bapak. Bagaimana tidak? Usiaku sudah kepala tiga, standar selera ibu tidak berubah. Harus lelaki kaya, tampan. Ah entahlah, bahkan di saat ada yang bersungguh-sungguh padaku selalu aja ada kurangnya di mata ibu. Bapak tak bisa menolongku, dia hanya bilang aku harus bersabar dengan sikap ibu yang mungkin nanti ada baiknya.

Aku sering heran dengan sikap ibu, saat usiaku menjelang 40 tahun. Ia menjadi lebih pemarah. Dia selalu marah bila ada keluarga yang menikahkan anak gadisnya, mungkin ia cemburu tapi haruskah? Bukankah dia yang teralu pemilih dan akhirnya aku sepetti ini? Tetap saja ia tak mau di salahkan. Dengan usiaku yang sudah tak lagi belia. Ibu akhirnya sedikit menurunkan kriterianya.

"Yang pentung bertanggung jawab." Katanya padaku.

Apa yang terjadi? Sampai saat inipun aku belum menikah. Aku terlalu dewasa untuk jadi seorang istdi yang akan menjadi seorang patuh pada suami yang lebih muda. Belum lagi aku jadi terlalu mapan untuk srmua calon yang berdatangan. Semua jadi serba salah. Karena alasan itu akhirnya mereka mundur. Ada juga yang datang dan percaya diri ingin mempersunting aku. Tapi apa? Akhirnya ketahuan juga dia ingin menipu kami. Ibu yang terlalu bersemangat menikahkan aku. Akhirnya uang ibu raib begitupun dengan motor bapak. Ternyata aku cuma dijadikan modus.

Tak bisa aku salahkan ibu. Makin tidak bisa karena ibu kini sudah tiada bahkan bari sebulan ini bapak ikut menyusul ibu. Tak bisa aku salahkan nasib, apalagi Tuhan..

Usiaku kini menjelang 50 dan tetap masih sendiri..

Jumat, 18 April 2014

Diary sang Zombigaret: Merananya aku..

5 tahun yang lalu..

Hari kelulusan sekolah datang juga. Sekolah mengadakan malam.perpisahan bertajuk Prom Night.

Prepare untuk pesta dansa nanti malam, senangnya membayangkan Dude menggandeng tanganku. Ya, kemarin dia mengajakku untuk datang bersama ke acara nanti malam. Pake baju apa ya? Apa baju bertema girly pink ini cocok buatku ya, secara badanku kan agak berisi, tapi pede saja lah toh aku nanti dateng digandeng Dude yang super ganteng.

"Nanti mlm jd? Gw jmput k rmh y?" Bunyi sms dari Dude.
"Duh, senangnya aku.." batinku.

Padahal baru sebulan sih kita jadian, tapi kami seolah telah lama tahu satu sama lain. Aku merasa cocok dengannya.

Tapi malam ini perpisahan? Tidak! Mau dibawa ke mana hubungan kita?

Malam ini indah luar biasa, tangan ini tak lepas dari genggamannya. Dude apa kita akan selalu bersama?

********

Maret 2012

"Apa dok, kanker paru-paru?" Kataku dengan nada syok, aku masih memelototi hasil laboratorium yang sedang dijelaskan oleh dokter.

"Ya, ini sudah positif. Memang masih stadium awal. Tapi kamu perlu khawatir." Jawaban dokter ini membuat aku putus asa.

Khawatir? Bagaimana tidak? Ini penyakit serius. Apa semua akibat dari kebiasaan aku merokok? Oh, bodohnya aku tak memperhatikan tulisan yang selalu ada di setiap bungkus rokok itu. Aku malah membelinya dan terus menghisapnya. Kukira tak akan sefatal ini.

Rasa sesak ini, bukan hanya karena rinduku pada Dude yang tak kunjung padam. Tapi sesak tertumpu penyakit yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawaku.

Dude apa kamu masih mau denganku? Mungkin aku akan mati dalam waktu singkat ini? Tapi aku masih menunggu. Ya, janji kita. Kau akan menemuiku lagi setelah kuliahmu di Jerman selesai.

Rongga dadaku seperti terhimpit batu, aku sakit.

***
2014

"Semoga mimpi indah..," kubaca pesan whatsappnya perlahan, mata ini sudah terlalu pegal menahan capek karena tak bisa tidur. Batuk-batuk ini semakin menyiksaku. "aku harap besok pagi kamu sudah mandi dan cantik." Apa maksudnya kalimat ini, tapi sudahlah. Dude memang pandai menggoda.

Aku tak pernah memberi tahunya tentang penyakit ini. Bahkan ia tak tahu kalau aku perokok berat.

Iya, semua salahku. Aku merokok karena pengaruh kehidupanku yang kacau setelah ditinggal Dude kuliah. Tak ada lagi tempatku berbagi. Meskipun ia tetap setia dengan LDR ini. Tapi aku kacau karena orang tuaku bercerai. Aku berlari ke kehidupan yang kacau, aku merokok. Kupikir ini tak terlalu berbahaya seperti alkohol dan yang lainnya. Tapi rupanya ada juga azab yang harus kutanggung, aku hampir mati. Begitu dekat. Rasa sakit ini, tak dapat aku sembunyikan dari Dude.

***

Aku tampak jelek dari hari ke hari. Oh begitu muak aku melihat bayangan diri ini di cermin. Penyakit ini melahap habis segala keceriaan dalam hidupku. Aku tak tahan lagi!

Mata cekung dengan lingkaran yang gelap. Tubuh yang kurus tinggal tulang, belum lagi bibir yang menghitam dan rambut yang rontok setiap kali tersentuh.

Aku berubah, cantikku hilang. aku benar-benar jadi gadis yang jelek!

Dude, aku tak akan memaksamu mencintai aku. Aku menyerah. Tak akan lagi aku menunggu kamu.

Semakin parahnya penyakit ini. Semakin harus aku melupakan Dude. Pria baik itu tak pantas denganku yang penyakitan dan jelek.

Aku hanya akan bertahan untuk ibu yang setia menemani aku, meski ayah telah pergi entah kemana.

Aku tak meneruskan kuliah. Jangankan untuk beraktifitas di luar rumah. Untuk berdiripun aku membutuhkan pertolongan dari ibu. Berjalan dengan dipapah olehnya. Aku seperti zombie yang takut menunggu mati.

Terlalu banyak hal yang membuatku sedih akhir-akhir ini. Ibu yang selalu menangis menatapku, pesan-pesan dari Dude yang tak pernah lagi kubalas dan teka-teki mengenai sisa umurku. Penyakit ini sudah terlalu serius. Hasil scan paru-paruku makin mengkhawatirkan. Entah apa yang membuatku bertahan. Di tengah sakit yang teramat ini, sesungguhnya aku telah menyerah.

**

"Bu, aku semakin jelek saja ya?"

"Bicara apa kamu, sayang? Bagi ibu kamu tetap cantik.."

"Maafkan aku, Bu. Aku sudah mengecewakan Ibu." Itu adalah kata terakhir yang bisa aku ucapkan kepadanya. Karena setelah hari itu aku tak sadarkan diri.

Aku hanya bisa mengingat diriku didorong ke ruang ICU. Dengan peralatan medis yang membeliti tubuhku. Aku bagai di alam mimpi. Antara sadar dan tidak. Semua tampak seperti bayangan di mataku. Lama juga aku merasakan hal seperti ini. Antara siuman dan pingsan begitu seringnya aku terlelap dan tertidur tiba-tiba.
Hari-hari dimana tak ada kata yang terucap dari mulutku.

"Maaf, bu tak ada jalan. Bahkan operasi pun tak bisa membantu. Paru-parunya sudah rusak secara keseluruhan. Ini karena pada dasarnya kondisi anak ibu memang lemah." Sayup-sayup kalimat dokter terdengar dari luar. Ibu masuk ke ruangan dengan berlinangan air mata.

Sementara tubuhku semakin kaku. Ingin rasanya kuhapus air matanya dan bangun untuk memeluknya, tapi tubuh ini tak sanggup. Hingga detik-detik ini sering aku rasakan pusing-pusing di kepalaku. Ya, aku sering tak sadarkan diri.

Kali ini, akhirnya aku bisa membuka mata untuk waktu yang cukup lama. Ibu masih setia di sampingku, membelai kepalaku dan membisikan kata-kata yang menguatkan hatiku. Tentu dengan linangan air matanya. Aku tak dapat berkaca, entah seberapa parah penampilanku? Tapi pastinya aku jelek!

Semakin banyak saja kerabat yang menengok aku di rumah sakit. Entah tau dari siapa? Sepertinya mereka saling mengabari keadaanku. Nenekku yang jarang mau tau tentangku saja sudah beberapa waktu ini selalu ada di samping ibu. Apa waktuku semakin dekat?

Eh, tapi mana ayah? Batinku menelisik, ingin tahu keberadaannya. Jika aku benar harus pergi, apa masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya? Walau ibu sakit hati karenanya tapi dia tetap ayahku.

Dan Dude? Tak akan aku pikirkan apapun tentangnya. Biarlah dia mengira aku hilang ditelan bumi.

Dunia semakin sempit buatku, nafaspun semakin pendek dan teramat pendek.

Apa sudah dekat? Dekatkah Tuhan?

Tuhan? Kenapa baru kutanya sekarang padamu?

Tuhan, aku bagai mayat hidup.
Entah kapan kau akan mengambilku dari kehidupan mereka. Ibuku, keluargaku..

Entahlah, tapi aku masih seperti zombie hingga nanti benar-benar menjadi mayat yang tak akan bangun lagi...

Www.shilpadreamstory.blogspot.com
Fb: Shilpa Yahya
e-mail: Shilpa23yahya@gmail.com

Ada-ada saja..

Tak pernah terbayangkan setelah menikah jadi seperti ini. Kaget? Pernah sih. Sekarang ngga lagi.
Tapi ada-ada saja pengalaman dan hal baru yang mungkin tak akan terlupakan.

Aku yang menikah muda merasakannya. Tinggal terpisah dengan orang tua, berbagai aktifitas yang terbilang baru harus aku geluti. Semua serba sendiri. Karena aku adalah seorang istri.

Masih aku ingat waktu gadis, aku masih bisa tidur selepas shalat subuh dan menunda aktifitasku menahan semuanya di balik selimut dan bantal yang kupeluk. Tapi kini, mustahil aku lakukan jika ingin jadi istri yang baik di mata suami. Leha-leha itu tak ada lagi.
Ya, walau terkadang curi-curi waktu buat memanjakan diri, boleh kan?

Seperti, pernah saat awal ngontrak di sebuah rumah yang jauh dari daerah asalku. Waktu itu baru sebulan menikah dan masuk bulan Ramadhan. Aku yang pengantin baru keteteran mengurusi makan sahur anak orang alias suamiku. Tidak seperti dulu, bangun ya tinggal makan. Selepas Sholat bisa ngelanjutin tidur. Ciri aku gadis tukang leha-leha.

Setelah jadi istri, puasa sama saja dengan kerja ekstra. Mulai dari makan sahur sampai berbuka. Belum lagi jam malam yang tak pernah dilewatkan suami, setelah tarawih atau menjelang sahur maklum pengantin baru, cape deh!

Kebayang ga setiap habis sahur harus shampoan? Pusing kan tu kepala. Hehe..

Masalah shampo ada lagi ceritaku masih di bulan Ramadhan.

Awal tinggal di rumah itu aku tidak tahu bagaimana nyalakan mesin air. Aku yang lagi keramas tiba-tiba kelabakan nyari air karena bak kosong aku putar keran rupanya tak keluar air. Suami nyari-nyari colokan ataupun tombol yang bisa membuat air keluar dari keran tapi tidak ketemu. Antara bingung dan gak tahan karena mata perih terkena shampo akhirnya aku lanjutkan keramasku dengan air galon yang dicabut dari dispenser, untungnya masih penuh jadinya cukup untuk mandi sampai beres, dan bisa puasa seperti biasa. Itu mungkin kisah yang masih aku ingat, apalagi sekaran sudah mau puasa. Hehe jadi teringat lagi, Ada-ada saja pengantin baru.. Setiap orang pasti punya kenangan seru, kamu juga gitu kan?

Hujan..

Tetiba perjalananku terhenti
Aku diberondong ribuan rintik yang menusuk di baju dan jaketku
Dalam jiwa yang berteduh
Otakku seakan mengepul
Mungkin itu reaksi dari panas menuju dingin yang mendadak

Gelisah di ujung waktu yang terus berputar
Menggeser dinamika kerjaku, terhambat
Menunggu menjadi begitu membosankan
Oh hujan, inikah dirimu sekarang

Tak ada lagi kerinduan
Tak ada lagi harapan perjumpaan
Kusudah menemukannya, hujan..

Kini aku berjuang mempertahankannya, maaf aku menolak hadirmu..
Aku hidup di dunia nyata,
Memang perlu angan dan cita
Aku melangkah dan menunggu perginya dirimu disini karena asa..

Bukan aku mengusirmu
Dan bukan aku melupakanmu..

Semuanya berbeda hujan, meski kau tak berubah padaku..

Kamis, 17 April 2014

Pulang Kandang

Sudah ada satu bulan Surti tak pernah menyapa suaminya, Rangga. Pun begitu dengan Rangga, laki-laki yang hampir seperti mayat hidup itu sudah sejak lama tak acuh pada istrinya.

Bermula dari sms yang katanya nyasar, berisi argumen kasih sayang dari dambaan hati. Rangga memaafkan Surti atas sms nyasar itu, walau hanya di mulut saja. Sikapnya yang dingin makin membeku, dia seperti tak bersosok di rumah itu. Perannya hilang. Sebagai suami, ayah, menantu, tak dihiraukannya lagi. Mungkin ia begitu kecewa, entahlah.

Pagi yang super ribut, setiap kali anak sekolah, Rangga yang bersiap kerjapun menjadi super heboh. Suasana kacau dan berantakan membuat Surti stres setiap hari.
Surti bukan istri yang telaten ngurus anak dan suami. Karena terlalu lama ia menginduk pada orang tua, hingga tak pernah ia menyelesaikan urusan tanpa bantuan orang tua. Mereka menjadi pasangan yang tidak mandiri. Terlalu lama santai dan terlena. Tak terasa usia pernikahan yang sudah 7 tahun, membuat Surti risih jika dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang telah mandiri. Hidup ngontrak, menjalankan rumah tangga seutuhnya tanpa campur tangan orang tua.

Surtipun bukan tak ingin seperti itu, sering kali ia meminta Rangga untuk bisa tinggal pisah dengan orang tuanya. Entah apa yang ada di pikiran suaminya, permintaan Surti selalu dibantahnya.

"Aku bosan didiamkan seperti ini, kamu ini kenapa?" Tiba-tiba saja Rangga memecah keheningan yang baru saja dirasakan selepas anak-anak pergi ke sekolah.

"Saya sudah tak tahan!" Tambahnya lagi. Dia pergi ke kamar dan membereskan pakaian. Ia masuk-masukan barang-barang yang menurutnya penting ke dalam tasnya yang besar.

Surti hanya bisa diam karena terlalu kaget dengan ekspresi dadakan ini.

Ranggapun keluar dari kamar. "Ini kan yang kamu mau? Ya, aku pergi saja biar kamu bebas."

Pertanyaan Rangga yang seperti itu, bagai membuka jalan emas bagi Surti. Surti yang sejak lama tak tahan dengan sikap suami yang sangat tidak perhatian dan sering menghilangkan perannya sebagai kepala keluarga.
Dengan nekat Surtipun angkat suara, "Iya memang lebih baik kita cerai, karena sama saja ada atau tiadanya suami buatku."

Dengan emosi Ranggapun pergi....

Surti tak gelisah sama sekali, tak khawatir dengan laki-laki yang masih jadi suaminya itu. "Paling juga pulang kandang," batinnya menerka mau kemana suaminya itu melangkah. Mudah menerka karena tak ada tempat yang jadi pelarian Rangga selain rumah ibu bapaknya.

Rabu, 16 April 2014

Sang primadona

"Aku kan masih muda," fikirnya. Surti bercermin sambil membentuk alisnya bak busur derajat. Dioleskan lipstik cair berwarna nude di bibir sensualnya. Tak lupa juga dia menyapu pipinya dengan blush on. Selesai sudah ritual dandan Surti.

Surti menoleh ke arah jam, sudah pukul 5. Bang Sarmili janji menjemput sekitar 15 menitan lagi. Dia sedikit grogi, maklum ini kencan pertama baginya, setelah hampir setahun menjanda. Hatinya kini sedang berbunga-bunga.

Clenting..! BB nya berbunyi ada tanda pesan BBM yang masuk. Rupanya dari Bang Sarmili.
"Neng sudah siap? Abang sudah di depan gang, sebentar Abang parkirkan mobil." Senyum-senyum mulut surti, terlebih ada kata mobil. Wah, gaya sekali fikirnya, kencan pake mobil. Bayangannya teringat waktu kencan dengan mantan suaminya dulu, boro-boro bawa mobil. Jalan-jalanpun cuma modal sendal paling banter naik angkot.

Hati Surti membuncah penuh kemenangan, "Selamat tinggal masa lalu." Ucapnya dalam hati.

Tok..tok..tok..

Bayangan sang pria tersembunyi di balik pintu, ketika Ibunya hendak membukakan pintu, Surti mendahuluinya. "Biar Surti yang buka, Bu.." senyumnya yang mempesona, ia hadirkan untuk sang pujaan hati.

"Sore Bang, masuk dulu. Ini Ibuku. Bu, ini Bang Sarmili teman yang pernah Surti ceritakan."

"Oh, ya silakan masuk.."

Sarmilipun masuk ke rumahnya bercakap dengan Ibunya. Lantas meminta ijin untuk membawa Surti jalan-jalan dan makan malam.
Saat itu, kedua anak Surti belum pulang sekolah. Surti bicara pada ibunya, "Nitip anak-anak ya, Bu.."

Surti melenggang berjalan beriringan dengan Bang Sarmili. Tubuhnya yang semampai tak menunjukan bahwa ia seorang janda beranak dua. Jalannya yang diatur, berlenggak bagai peragawati. Surti bergairah. Masuk kedalam mobil dengan perasaan bahagia dan harap, "apa ini akan jadi masa depanku?" Hatinya betanya. Semburat senyum keyakinan dan terfikir, " Aku bagai primadona.."  Memantapkan posisinya sebagai kekasih orang berada. Surti sedang mengejar mimpi.

...